Menjadi Dewasa Itu Tidak Masuk Akal, Menjadi Anak-Anak Justru yang Paling Logis

jadi dewasa tidak masuk akal

Hari ini 8 Januari 2026 Alinea genap berusia 6 tahun.

Sekarang dia sudah duduk di bangku TK B dan juga menjalani kesehariannya di daycare.

Di tengah perayaan hari ini, saat melihat dia dengan antusias merobek kertas kado pemberian dari Kepala Sekolah, ibu guru, Om Wawan, dan Tante Nuf, pikiran saya justru melayang jauh. Bukan masalah kado atau kuenya, melainkan kehadiran saya sebagai manusia.

Selama ini, kita sering menganggap dunia anak-anak itu dunia yang absurd. Dunia yang penuh imajinasi liar, tidak serius, dan hanya main-main. Kita, orang dewasa, merasa kitalah pemegang kunci realitas yang sesungguhnya.

Tapi setelah saya amati Alinea hari ini, saya sadar saya salah.

Ternyata, kehidupan anak-anak adalah tahap kehidupan yang paling masuk akal. Justru kehidupan kita para orang dewasa inilah yang sering kali tidak masuk akal.

Coba pikirkan.

Pertama, soal koneksi.

Semakin kita tua, lingkaran pertemanan kita justru semakin menyemput. Kita merasa kesepian di tengah keramaian. Kita membangun tembok tinggi bernama privasi dan gengsi.

Sementara anak-anak?

Mereka hidup dengan prinsip terbuka. Di taman bermain, orang asing bisa jadi sahabat hanya dalam waktu 5 menit. Siapa yang sebenarnya lebih logis? Manusia adalah makhluk sosial, tapi orang dewasa justru memilih mengisolasi diri.

Kedua, soal memaafkan.

Ketika anak-anak sedih atau bertengkar, perhatikan betapa cepatnya mereka move on.

Menangis sebentar, lalu lima menit kemudian sudah tertawa lagi dengan orang yang sama. Emosi mereka tuntas. Bandingkan dengan kita yang bisa menyimpan sakit hati bertahun-tahun.

Memelihara dendam itu tidak logis, tapi itulah yang sering kita lakukan.

Ketiga, dan yang paling menampar saya, adalah soal kehadiran.

Hal ini saya rasakan betul saat libur akhir tahun kemarin.

Saya sengaja meliburkan Alinea dan adiknya, Aira, dari daycare selama dua minggu penuh. Tujuannya sederhana, yaitu bonding time. Menebus waktu, karena enam bulan terakhir ini mereka menghabiskan waktu dari pagi sampai maghrib di daycare.

Saya ingin menebus rasa bersalah itu.

Secara fisik, saya ada di sana. Saya bermain bersama mereka , menanggapi pertanyaan dan pernyataan mereka. Tapi jujur, pikiran saya tidak di sana.

Raga saya bermain dengan anak-anak, tapi kepala saya berkelana cemas menyambut tahun 2026.

Saya dihantui fakta bahwa enam bulan lagi Alinea masuk SD.

Dia akan sekolah jam 07.30 dan pulang 14.30; jam di mana saya dan Ade masih sibuk bekerja. Siapa yang akan menjemput? Apakah aman jika saya ikutkan jemputan sekolah?

Belum lagi soal biaya.

SD butuh uang bulanan lebih besar. Padahal, di penghujung tahun kemarin, saya menerima email dari kantor yang isinya cukup membuat gelisah bahwa Januari hingga Juni 2026 kantor akan melakukan efisiensi karyawan. Ancaman itu nyata di depan mata.

Lihatlah betapa tidak masuk akalnya saya sebagai orang dewasa.

Di depan mata saya ada dua anak yang sedang tertawa bahagia, menikmati liburan bersama ayahnya. Tapi saya justru memilih untuk hidup di masa depan yang menakutkan, memikirkan logistik penjemputan sekolah dan ketidakpastian karir.

Niat awal saya adalah bonding, tapi hasilnya saya malah melupakan esensi dari kebersamaan itu sendiri. Saya membiarkan ketakutan akan tahun 2026 merampok kebahagiaan saya di penghujung 2025.

Sedangkan Alinea? Dia tidak peduli soal inflasi atau efisiensi kantor ayahnya. Baginya, hari ini ada Ayah, ada mainan, dan dia bahagia. Titik.

Melihat Alinea tertawa lepas sambil membuka kado hari ini, saya jadi bertanya-tanya. Apakah tugas kita membesarkan anak, atau sebenarnya anak-anaklah yang ditugaskan Tuhan untuk mengingatkan kita cara hidup yang benar?

Mungkin, menjadi dewasa yang seutuhnya adalah kemampuan untuk kembali memiliki keberanian seperti anak kecil. Berani menikmati hari ini, tanpa dihantui ketakutan berlebih akan hari esok.

Selamat ulang tahun, Alinea. Terima kasih sudah mengajari Ayah untuk kembali jadi orang yang masuk akal.

Nih buat jajan