ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Wednesday, 28 December 2016

Hal-hal ini terjadi di 2016 (2)

     
Masjid Raya Kabupaten Wajo di shalat Idul Fitri 1437 H/2016 M.
       3. Tengah Tahun II (Agustus-Oktober)

Saya beridul fitri di Sengkang. Di malam lebaran saya duduk di teras bersama bapak. Dia semakin fasih menggunakan Facebook, mengomentari postingan orang-orang di berandanya. Lima hari sebelum lebaran saya tiba di Makassar dan Ade menjemput saya di bandara. Kami tidak bertemu setelah hampir 4 bulan. Dia menghabiskan separuh 2016nya di Jakarta dan kini sudah menetap di sana. Pertemuan kami kemudian diisi dengan percakapan-percakapan panjang tentang banyak hal yang terjadi, tentang orang-orang baru yang kami temui. Dia memang pacar yang baik sekaligus teman diskusi yang cerdas. Salah satu percakapan yang paling membekas adalah pendapatnya tentang bagaimana kami orang introver harus beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan baru. Sebab jika tidak, tidak akan ada hal yang bisa dilakukan dan kita hanya akan terjebak dengan pikiran-pikiran kita sendiri.

“Saya tahu kalau kamu adalah introver, tapi tolong, kamu harus menyesuaikan pada dunia yang terus berubah. Bukan dunia yang harus menyesuaikan denganmu,” sergahnya pada perbincangan tentang seorang pribadi tertutup lainnya.

Friday, 16 December 2016

Hikayat Jean Calas dan Mereka yang Gagal Jantung

Pernah suatu sore di Kampung Buku, usai menyelesaikan bacaan di rubrik literasi Tempo Makassar saya melempar koran itu ke atas meja sambil menghela napas panjang. Kak Jimpe yang duduk di depan saya bertanya, "Kenapa?"
"Tidakji kak, begituji pale' literasi. Kumpulan beberapa tulisan, data, yang dikaitkan dengan kejadian sekarang, trus ditutup dengan pendapat pribadi."
"Begituji memang. Rajin membaca saja."
Adalah reading IELTS yang kemudian menjadi perangsang hadirnya tulisan di bawah ini. Reading berjudul Optimism and Healthy itu kemudian menggiring saya mengingat bacaan Voltaire tentang toleransi sekira akhir tahun lalu.  Ditambah lagi dengan tagar #BandungIntoleransi yang saya baca di linimasa twitter beberapa hari lalu. Tulisan ini tayang di http://kareba.dutadamai.id/ 10 Desember 2016.
------------------
Bahwa ada yang lebih luas dari alam semesta yang kita huni saat ini, yaitu alam pikiran. Pikiran bisa jadi penentu tindak tanduk manusia di alam semesta. Dua hal signifikan dari pikiran yang baik adalah optimisme dan kesehatan. Pikiran adalah segalanya, sehat sakitnya jasmani tergantung dari baik buruknya rohani. Jika ada yang menggadang-gadang slogan sehat berawal dari pikiran, maka pernyataan tersebut tidak mengada-ada.

Friday, 2 December 2016

Hal-hal ini terjadi di 2016 (1)

Exit signage di Teduh Hostel, Jakarta.
Gubrak! Ini sudah Desember dan siap atau tidak siap menghitung hari lagi kita akan keluar dari 2016 dan masuk ke 2017. Betapa waktu berlalu dengan sangat cepat. Selamat memasuki Desember, bulan terakhir di kalender masehi. Tahun ini adalah tahun tercepat dan tahun paling dinamis bagi saya dalam 5 tahun terakhir. Meskipun tidak banyak hal yang saya lakukan, secara garis besar hanya ada empat fase di tahun ini. Selanjutnya saya akan menuliskannya ke dalam empat bagian hal-hal yang terjadi di 2016. Tak ada maksud untuk narsis dan curhat colongan, ini hanyalah cara untuk memperpanjang ingatan yang kian hari kian memendek dan juga bahan refleksi ke depannya.

1. Awal Tahun (Januari-April)

Masih dengan membawa tugas akhir (TA) yang belum kelar saya memasuki 2016. Menghabiskan waktu dengan merampungkan TA di Daun Coffee, warung kopi paling hits yang letaknya tak jauh dari kampus Parangtambung, berdiskusi dengan dosen dan teman-teman sesama pekerja TA. Hingga disela-sela kerja tersebut, teman sekelas saya yang belum sampai pada tahap penyelesaian kuliah mengalihkan isu TA ini ke ‘bikin karya sama-sama sebagai perpisahan’, maka tercetuslah ‘Almanak’ pameran kalender 2016 hasil karya berupa fotografi dan desain grafis oleh dua belas orang teman sekelas saya. Kelar di Almanak, saya kemudian kembali menghabiskan waktu dengan “Buku Foto Lipa Sa’be”, tugas akhir yang saya angkat, di percetakan sepanjang jalan Sungai Saddang dan distributor kertas di jalan Gunung Bawakaraeng. Di akhir Februari, saya berserta 9 orang pekerja TA mengadakan “Artefak”, pameran tugas akhir sebagai prasyarat untuk ujian akhir. Barulah kemudian di minggu pertama Maret pengerjaan tugas akhir ini benar-benar berakhir. Sebagai tanda telah menyelesaikannya disematilah kami gelar Sarjana Desain! Hasil kuliah selama 4,5 tahun. Betapa Maret tahun ini sangat berharga sebab hari yudisium saya, hari Jumat, bertepatan dengan hari lahir saya.

Wednesday, 10 August 2016

Studio Ghibli : A Little People and Invisible World

Have you ever been losing in the solitude then positioning yourself as well as child? Or have you ever felt that you lost some stuffs in your own room? Then you suddenly feel that there must be someone stealing it? There is no body inside actually but you. These kinds of questions was experimented by me last night after watching a couple anime movies produced by Ghibli Studio, namely Spirited Away (2001) and The Secret World of Arriety (2010) in particular.


Spirited Away talked about a family wanting to move to another town. They were father and mother with one child, named Chihiro. She was ten years old. On the road Chihiro looked a stranger. She did not like with their displacement. To make it better, her father decided to use alternative route through forest. They lost in the forest but found a small town with no one. It looked like a town of playground left by their people. There were numerous restaurants completed with dishes of food. Chihiro’s family was surprising and determined to look around then. This story began from here. I am not talking to you what happened next but actually the place that they stopped was the boundary between real world and invisible world. I meet with many characters whom I have never imagined before. Watching this movie will bring you to a fantasy world. Not only presenting good characters, but also beautiful images, and an interesting story equally. Reasonably, it had become a winner of Oscar 2003 for best animation.


The next movie is the same as the previous one, I did not expect more, but what I found was adorable. The Secret World of Arriety showed a life of little people. They had 4 inches of height. These little people might not be seen by normal people like us. Finally, that situation had made them must struggle for living. They named themselves with borrower and took goods from real people for their daily life. This anime took a perspective from Arriety, a little girl who lived with her father and mother in a Sadako’s house. Sadako’s family believed that there were little people lived in their house. It was proven by doll house. This condition made their housemaid be curious. As the same as the first motion picture, I do not explain more about what happened with Arriety’s life then whether they were destroyed or survived. A film that adapted from Mary Norton’s novel was strong, mixed by among happiness, sadness, anxiety, humorous and that stories were not easily guessed.

I forgot when the last time I watched kids movies like these. Many life lessons were offered without disparaged. Finally, from them, I understood that kid’s movies are not only for children but also adults.


Friday, 10 June 2016

ArtJog 9, semesta kehidupan

Karya ini menjadi karya pembuka di ArtJog 9.
Mungkin karena yang ditampilkan sesuatu yang
sangat lekat dengan kehidupan kita hari ini,
kawan saya diakhir berkeliling menyimpulkan bahwa
dari keseluruhan karya hanya ini yang dia pahami. 

Saya tidak pernah berniat mengunjungi Jogja hanya dalam satu dua hari sebab kota ini, bagi saya masuk dalam kota ter-artsy garis keras. Tidak akan puas saya merasakan ke-artsy-an Jogja dalam sehari. Namun, kemarin (5/6) aforisme tersebut sirna seketika.

Setelah dikirimi upah yearbook akhir bulan kemarin, saya kemudian memutuskan untuk ke Pare, Kediri, hingga akhir tahun. Kebetulan saja akhir bulan kemarin Jogja resmi menggelar ArtJog 9. Karena pembelajaran di Pare belum dimulai, saya tergoda untuk mengunjungi ajang pameran seni rupa kontemporer ini. Dari hasil penelusuran di Google, jarak tempuh dari Pare ke Jogja menghabiskan waktu sekira 5-6 jam. Hitung-hitungannya sama seperti Sengkang ke Makassar. Bersama seorang kawan, saya kemudian berangkat.

Karya Ugo Untoro ini terkesan sangat sederhana.
Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk melanjutkan ke karya berikutnya.
Di konsep karya, hanya tertera :
Keindahan adalah yang pertama, yang sendiri,
yang tunggal, yang ganjil, yang selamanya.
Pengantar karya Eko Nugroho
Display karya Eko Nugroho
Artjog 9 digelar di Jogja National Museum (JNM) selama sebulan, dari 27 Juni hingga 27 Juli 2016. Ada 72 orang seniman yang berpartisipasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Tema yang diangkat adalah Universal Influence. Saya menerjemahbebaskannya sebagai sesuatu yang terjadi di dunia saat ini, hari ini, yang lahir dari dalam diri maupun masyarakat. Tema ini melintasi waktu digelarnya pameran, baik dari masa lalu, sekarang, dan masa mendatang.

Apa yang membuat saya tertarik datang adalah banyak seniman yang saya kagumi dan telah lama saya untit kehidupan serta karya-karyanya di dunia maya, berpameran dalam satu waktu dan satu tempat. Saya tidak mau terus menerus hanya melihat karya mereka di dunia maya. Lokasi saya sudah sedekat ini dengan tempat mereka menggelar pameran, kenapa tidak menemui karya-karya mereka di dunia nyata?

Gambar pemandangan yang sejak kecil kita kenal berupa
dua gunung, satu matahari, dan jalan memanjang di tengah dua gunung
ternyata tak habis dieksplorasi, bahkan oleh para seniman.
Aditya Nofali pun melakukannya. Merekonstruksi dan
mendekonstruksi tema sederhana tersebut.
Kata-kata kotor se-Indonesia dipajang dalam satu ruang pamer.
Setidaknya itu yang saya perhatikan. Deskripsi karya ini bisa dibaca disini.
"Putuskanlah rantai-rantai yang menganggu kemerdekaan darahmu untuk memberi tempat, memelihara benih menjadi garuda yang besar dan bersayap kuat bisa membawamu ke langit yang biru melayang-layang melihat dan menghisap kebagusan dunia, bulan, bintang-bintang dan matahari, alam ciptaan Tuhan," S. Sudjojono.
Saya salah satu penggemar Agan Harahap. Teknik photoshop yang digunakan
dalam berkarya selalu saja lucu dan tidak jarang menohok.
Foto-foto yang dipamer adalah foto feature dari rangkaian foto esai
yang kelanjutannya bisa disaksikan di gawai sebelah kanan display karya.
Mengumpulkan kenangan dalam bentuk foto dan memajangnya
seperti ini adalah cerdas. Sumbu kosmik memori karya Angki Purbandono ini
terinspirasi dari bentuk Candi Borobudur. 
Entah di media mana saya telah membaca konsep karya
Davy Linggar ini. Menyaksikan dokumentasi 17 orang seniman
yang dipajang, secara langsung adalah keberuntungan!
Hampir bersamaan dengan pembukaan ArtJog 9,
Farid Stevy Asta juga menggelar pameran tunggalnya di Kedai Kebun.
Sialnya, saya gagal menyaksikan hajatan pribadinya tersebut. Duh.
Namun bersuyukur masih bisa menyaksikan display dari potongan
lagu Hal-Hal Ini Terjadi.
Saya telah menyaksikan secara langsung penampilan
Tisna Sanjaya di Pasar Seni ITB 2014. Seniman asal Bandung ini
memang merupakan perupa sekaligus penampil.
Dan kali ini saya menonton karya hasil dari penampilannya.
Keseluruhan karya di ArtJog 9 disebar di tiga lantai 3 JNM. Karya penutup terletak di bagian belakang dengan kapasitas besar. Karya tersebut merupakan hasil Commisioned Artist yang konon mengajak audience untuk membayangkan berbagai tingkat spekulasi dan hipotesa tentang kemungkinan adanya bentuk koloni makhluk cerdas di luar planet bumi. Dari hasil pendengaran saya melalui headset yang tersedia seolah membawa kita ke luar angkasa dengan suara berupa pancaran gelombang radio. 
Karya penutup dari Universal Influence adalah karya ini dengan menara
setinggi 36 meter disertai lampu suar di atasnya berdaya jangkau 10km.
Karya ini dibuat oleh Venzha Christiawan & ISSS
(Indonesian Space Science Society)
Jika di sebelah kiri kita menyaksikan karya Venzha dan ISSS,
maka di sebelah kanannya kita bisa menemukan booth merchandise ArtJog 9.
Puluhan karya yang terpajang ini membuat saya kembali seolah membaca ulang dan belajar mengenai semesta kehidupan. Masa kecil, perbincangan terhadap diri sendiri, agama dan ketuhanan, sosial masyarakat, budaya, politik, perkembangan teknologi, hingga pengidentifikasian makhluk luar angkasa.

Friday, 26 February 2016

Catatan singkat untuk HMDKV yang menuju tujuh tahun. Selamat!


Usia tujuh tahun bagi seorang manusia adalah memasuki jenjang sekolah dasar kelas satu atau kelas dua. Menurut psikolog, pada fase ini terdapat hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah. Keinginan untuk belajar hal-hal baru bertambah kuat, ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Jika dia anak perempuan, maka dia akan lebih banyak berbicara dibanding anak laki-laki. Keahlian dan kemampuan membaca, menulis, dan menghitungnya berkembang pesat. Namun tak dapat dipungkiri bahwa pola asuh orang tua dan lingkungan sekitar sangat berperan penting terhadap pembentukan karakter dan moralnya. Perilaku-perilaku negatif kemudian menjadi sangat rentan pada usia seperti ini.

Februari 2016 ini Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HMDKV) Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggenapkan usianya menjadi tujuh tahun. Lembaga kemahasiswaan termuda di FSD ini tidak lagi harus belajar berjalan. Jika dipersonifikasikan, perilakunya tepat seperti deskripsi anak usia tujuh tahun di atas.

Himpunan kemahasiswaan di tingkat universitas selalu menarik untuk ditilik. Betapa saya cemburu pada tipe lembaga kemahasiswaan yang program kerja tahunannya berbeda dari program kerja tahun sebelumnya, inovatif dan merespon permasalahan sekitar serta program-program kerjanya tidak bergantung pada pendanaan birokrasi yang sungguh, betapa rumitnya dan banyak makan hati. Bukankah sebagai himpunan yang diisi oleh anak-anak muda kita tidak harus stagnan pada hal-hal demikian?
ilustrasi : algiivar
Setelah empat tahun lebih bergumul di HMDKV saya nampaknya masih bisa menyimpan kecemburuan itu. Bukannya apa, kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan adalah dinamis. Mereka tidak akan menghabiskan malam dengan membahas program kerja yang itu-itu saja, maksud saya sama dengan program kerja tahun lalu. Mereka akrab dengan istilah ‘kandang paksa’. Jika mendapati ide, mereka akan langsung mengeksekusi ide tersebut. Tapi tidak dengan abal-abal, beruntung HMDKV didampingi pengajar yang loyal dan siap diketuk pintu rumahnya kapan saja untuk dimintai pertimbangan. Mempelajari ilmu Desain Komunikasi Visual (DKV) membuat mereka harus mejadi pembelajar yang cepat dan pengeksekusi yang tangkas. Ini karena rutinitas tugas-tugas perkuliahan yang menuntut tenggat waktu yang juga cepat namun dengan karya yang berkualitas dan terukur. HMDKV kemudian menjelma sebagai wadah pengimplementasian dari teori-teori perkuliahan. Berkarya dengan tidak berdasar pada brief tugas mata kuliah. Paragraf ini bukan paragraf poji riale, sekali lagi bukan. I'm just telling the truth.


grafis : chimankorus
Kemungkinan terbesar seorang mahasiswa desain komunikasi visual setelah lulus dari bangku perkuliahan adalah terjun bebas di industri kreatif yang sedemikian luasnya. Industri ini tidak statis, namun bergerak sesuai perkembangan zaman. Dia yang memengaruhi zaman atau zaman yang memengaruhinya, saya masih kabur. Yang jelas, karena ini industri dan ada yang harus dipenuhi maka mau tidak mau kembali lagi harus berhadapan dengan tenggat waktu. Bekerja cepat dengan hasil yang tepat. Maka sekali lagi, beruntunglah mahasiswa yang berhimpun di HMDKV. Berada di industri kreatif tidak akan membuat kewalahan, pola kerjanya sama, ritmenya saja yang barangkali harus menyesuaikan. Terlepas dari kebanggaan itu semua bahwa HMDKV berbeda dengan himpunan lain hanya karena berada pada lingkup DKV lantas tidak boleh membuat kita congkak. Percayalah, ada banyak orang di luar sana yang jauh lebih ber-desain-komunikasi-visual dibanding desain komunikasi visual yang dikuliahi selama bertahun-tahun. 

HMDKV bukan hanya sebuah himpunan, namun lebih dari itu kita adalah bagian dari masyarakat luas. Umur baru saja menginjak usia sekolah dasar, masa puber belum dilalui, berada pada fase dewasa masih panjang. Kita masih harus terus belajar membaca, menulis, dan menghitung. Merespon permasalahan yang ada serta belajar dan berkolaborasi untuk menyelesaikannya. 




Thursday, 21 January 2016

Menjelajah Di Tanah Lada


Apakah kamu pernah melihat kedua orang tuamu bertengkar? Atau kalian pernah menonton adegan pertengkaran antara ayah dan ibu di sinetron yang ditayangkan televisi? Pertengkaran berupa saling mengata-ngatai, kemudian berlanjut —ayah menampar ibu dan ibu kemudian menangis tersedu. Lalu kamu sebagai anak tidak tahu harus berbuat apa. Takut kepada ayah dan kasihan melihat ibu.

Itulah yang dialami Ava, anak perempuan 6 tahun. Nama lengkapnya Salva, mamanya yang menamai. Tapi ayahnya berkeras menamainya Saliva yang artinya liur karena katanya dia tidak berguna. Tokoh Ava hadir dalam sebuah novel karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie (semoga saya tidak salah menuliskan namanya) berjudul Di Tanah Lada. Ava punya kamus, pemberian kakeknya, Kakek Kia. Dia selalu membawanya ke mana-mana. Sebagai anak kecil yang belum paham banyak kata-kata, kamus bahasa Indonesia tersebut adalah penyelamatnya. Kakek Kia meninggal di awal novel dan ini merupakan pengantar untuk memasuki cerita. Ava, ayah, dan ibunya harus pindah rumah ke Rusun Nero. Ayahnya yang memaksa, agar bisa bermain judi dengan leluasa. Di sana Ava berkenalan dengan P, anak laki-laki yang ia cap sebagai anak pengamen karena selalu membawa gitar dengan pakaiannya yang lusuh, padahal P bukan anak pengamen, dia hanya selalu membawa gitar dan berjalan berkeliling sebab dia tidak boleh pulang sebelum jam 7 malam. P berumur 10 tahun, tinggal bersama ayahnya.

Buku dengan ilustrasi anak kecil di sampul depannya yang digambar sendiri oleh penulisnya adalah pemenang kedua sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Buku ini dipinjam teman kostan saya dari katakerja. Karena di a sedang keluar kota dan novel ini ditinggal di kamarnya, maka jadilah saya membacanya. Saya yang telah membaca Puya ke Puya penasaran saja kenapa bisa Di Tanah Lada keluar sebagai pemenang kedua.

Selama saya hidup, Di Tanah Lada adalah buku keempat yang habis saya baca dalam sekali duduk. Saya adalah tipe pembaca yang malas. Buku-buku tipis kadang saya baca hingga dua minggu. Sementara yang tebal-tebal bisa sampai dua bulanan. Apa yang membuat saya mampu ‘menjelajah’ Di Tanah Lada dalam separuh malam adalah karena dia bercerita dari sudut pandang anak kecil, perempuan pula. Menggunakan sudut pandang anak perempuan dalam bertutur memang selalu menarik. Imajinasinya liar, percakapan-percakapannya lucu, menggemaskan, tak jarang menohok, penarikan kesimpulannya membuat logika orang dewasa kadang terputarbalikkan. Seperti kesimpulan Ava tentang kopi, bahwa dia tidak pernah minum kopi, tapi takut dengan minuman itu. “Soalnya, warnanya hitam. Kalau warna hitam, biasanya jahat,” katanya. Ava membeberkan isi kepalanya secara rinci, termasuk pembacaannya terhadap kata-kata yang ia temukan di kamus. Ava dan P si anak pengamen yang bukan anak pengamen di pertengahan cerita mencoba melakukan perjalanan menuju rumah Nenek Isma. Rencana disusun rapi sekali, tidak ada ketakutan. Padahal perjalanannya yang akan ditempuh cukup jauh. Tanah lada adalah hasil imajinasi Ava tentang sebuah tempat dimana dia akan tumbuh bersama kebahagiaan.

Kalau aku membuat kamus, aku akan memasukkan ini di dalamnya :

Tanah [kb.] : (1) permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali (2) keadaan bumi di suatu tempat; (3) permukaan bumi yang diberi batas; (4) daratan; (5) permukaan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; negara.

--Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

Dalam perjalanan menuju  rumah Nenek Isma, P yang sebelumnya diberi nama Pepper oleh Ava —karena Pepper berarti lada dan lada katanya menghangatkan, seperti Ava yang merasa hangat ketika bersama P berencana untuk ganti nama lagi, mereka mencari nama dan menemukan Patibrata Praharsa yang berarti sehidup semati dalam keadaan bahagia. Dan dalam perjalanan inilah si penulis dengan tega membunuh tokoh utama. Ava dan P menceburkan diri ke laut, dengan harapan menuju bintang di mana di sana katanya ada kebahagiaan dan kedamaian. Sebab laut kata Ava adalah akhir dari perjalanan semua bintang yang selama ini mendengarkan harapan P. Jika mereka telah berada di bintang, mereka juga berharap bereinkarnasi menjadi macam-macam, yang jelas berpasangan. Entah itu menjadi sepasang penguin, ayam betina dan ayam jantan, hingga lada dan garam.

*

Yang membuat Ava dan P akrab adalah permasalahan yang dihadapi Ava dan P memang pada dasarnya sama, mereka merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga. Kedekatan mereka terjalin dengan sangat alami, ala anak-anak. Penulis yang merupakan dara kelahiran Bandar Lampung 1993 mengangkat isu penting yang saya rasa akan laku sepanjang masa. Ava bosan melihat pertengkaran papa dan mamanya. Dia sering dipukul sisir oleh papanya, belum lagi lontaran kata-kata kasar.

“Itu anak didikanmu! Dari kecil sudah jadi jalang!” bentak papa Ava ke mamanya ketika melihat Ava dan P dalam kamar.

P pun mengalami kekerasan oleh papanya yang ternyata bukan papanya, berupa penyetrikaan di tangan kanannya. Dia juga tidak tahu mamanya siapa dan ada di mana. Jadilah mereka pesimistik dalam menjalani hidup di usia belia. Ada tekanan psikologis yang sangat berat menerpa mereka. Saya kemudian dibuat marah oleh papa dan mama Ava, juga orang tua P yang menjadikan keduanya korban. 

*

Ilustrasi oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Jika kamu membaca ulasan-ulasan tentang buku ini di goodreads, banyak hal yang orang pertanyakan di sana, sampai kenapa Ava bisa sejenius itu, kenapa pemikirannya sampai segitu, hal-hal apa yang membuatnya seperti itu. Namun untuk kontra-kontra semacam itu, saya rasa Ziggy sudah punya jawaban di halaman 197.

“Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. —Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.”

Buku ini memang merupakan buku pinjaman. Sebentar lagi dikembalikan. Tapi setelah saya membuat tulisan ini saya akan ke toko buku untuk membelinya. Di Tanah Lada harus ada di rak buku saya, setidaknya kelak dapat menjadi pengingat bagi saya agar tidak menjadi papa yang jahat. Ala!



***


Judul : Di Tanah Lada  | Penulis : Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit : Agustus 2015 
Jumlah Halaman : 244 | ISBN : 978-602-03-1896-7


*** Tayang di revius 22 Januari 2016 http://revi.us/menjelajah-di-tanah-lada/

Saturday, 2 January 2016

Almanak 12 Perancang Grafis

Hai! Saya dan teman-teman di Desain Komunikasi Visual 2011 baru saja melaksanakan sebuah gelaran di luar kampus. Tepis anggapan bahwa kami terdiri dari banyak orang. Saat baru masuk di tahun 2011, ada sekira 41 orang, hingga di penghujung 2015 jumlah kami tidak lagi mencapai setengahnya. Ini seleksi alam (tugas) yang keras atau mungkin minat mereka bukan disini. Teman-teman yang tersisa ini kemudian berhimpun membuat membuat pameran. Bukannya apa, jenis kami di kampus kini terbagi tiga : masih terseok menyelesaikan kuliah, akan mengajukan judul tugas akhir, dan sedang dengan sangat keras menyelesaikan tugas akhir. Saya mencoba membuat pengantar untuk teman-teman dari gelaran tersebut, seperti ini :


Dua belas mahasiswa dengan gaya dan kecenderungan berbeda terhadap sebuah desain untuk dua belas almanak di sepanjang tahun mendatang adalah hasil kongsi dari kejenuhan yang sama. Briefing-brainstorming-asistensi-diberi nilai, atau, revisi-perbaikan-revisi-perbaikan, begitu seterusnya.

Dua perulangan itu merupakan dua tipe dari dua belas mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas kuliah dan tugas akhir yang entah kapan berakhir, di sebuah sekolah desain di Parangtambung sana. Pajang karya menjadi ajang rehat dari kemelut perulangan akademik yang menjemukan, tanpa tendensi teori-teori perancangan.













Usaha keluar kandang dan membiarkan karya bertemu, dikritik, dinikmati, dan dimiliki oleh orang dengan latar belakang berbeda adalah usaha rendah hati untuk tidak congkak terhadap latar belakang pendidikan desain komunikasi visual yang dimiliki. Sebab ketakutan terbesar kami adalah jangan sampai latar belakang pendidikan tersebut hanya mendidik untuk keluar dari kreativitas, tidak tumbuh dalam kreativitas, seperti kata Ken Robinson.

Oleh karena (karya) tugas kuliah itu dipamerkan di koridor-koridor institusi yang toh ditonton oleh orang yang itu-itu lagi. Akhirnya, Andi Sultan Alauddin, Herman Pawellangi, Jumardan Muhammad, ChandraJuliatma, Andi Ashar, Handi Nurdiawan, Andi Filsaf Amor, Reza Abdillah, NurAfandi, Nur Syahida Arsy, Puspita Sunny, dan Aswan Syam memutuskan untuk eksibisi di Peeple Coffee – Working Space 27-31 Desember 2015. Dan, jika ingin kami menemani kamu disepanjang 2016 mendatang, miliki kalender yang bakal dijual di tempat pameran dan biarkan kami menemanimu di meja sudut ruang tamumu, meja kerjamu, atau meja di samping tempat tidurmu. 

Inilah mereka!
Kami memberikan file high resolutionnya untuk kalian miliki dan perbanyak secara gratis.
Silakan download disini!

video

Friday, 1 January 2016

3 Hal di 2015

Saya merasa gagal ketika melewatkan 2015 tanpa menceritakan hal-hal berkesan. Sebab seperti yang dikatakan Suwarno Wisetrotomo di kelas penulisan kritik seni rupa Makassar Biennale 2015 bahwa ingatan kian terbatas sementara banyak hal yang ingin diingat. Tenang, saya tidak akan curhat tentang tugas akhir saya yang belum berakhir di 2015. Saya akan memberitahu kamu tentang buku, film, dan musik yang paling berkesan saya baca, nonton, dan dengarkan di 2015.

Kenapa buku, film, dan musik? Sebab ketiga hal ini adalah yang paling membekas sejak setahun lalu. Adalah bang Moses, kepala sekolah Galeri Foto Jurnalistik Antara Jakarta yang menanyakan hal ini ketika saya sedang tes masuk untuk sekolah fotojurnalistik di Galeri Foto Jurnalistik Antara Makassar. Selain itu, ketiga hal ini pun ditanyakan ketika melamar kerja di industri kreatif, menurut blog seorang reporter majalah anak muda tersohor di Jakarta yang saya ikuti. Beberapa media daring antimainstream menjadikan pertanyaan ini sebagai pertanyaan wajib ketika mewawancarai pekerja di industri kreatif. Lagian, saya sedang berada pada zona nyaman tahun ini, cap kekasih saya. Kerjaan saya hanya, tidur, membaca, menonton, sesekali menulis, memotret, kerja tugas akhir, bimbingan, revisi, bimbingan, revisi, menurut kekasih saya.

Jadi, buku, fim, dan musik terbaik itu adalah ini :

1. Bukan Pasar Malam.


Ini karya pertama Pramoedya Ananta Toer yang saya baca, buku lama, tapi diterbitkan lagi di Agustus 2015. Sebenarnya ada banyak buku yang berkesan tahun ini, diantaranya Dilan 2 yang ditunggu-tunggu terbitnya, namun akhirnya mengecewakan. Dua karya Remy Silado, Menunggu Matahari Melbourne dan Malaikat Lereng Tidar yang saya ulas di Revius. Namun ternayata yang paling menohok adalah Bukan Pasar Malam. Buku ini pinjaman dari seorang teman, padahal saya pernah punya Bumi Manusia, tidak sempat dibaca kemudian hilang. Karya Pram ini sederhana, bercerita tentang seorang anak yang terpaksa pulang kampung karena ayahnya jatuh sakit. Latar tempat penulisan roman ini adalah di Blora, Jawa Tengah, sedangkan latar waktunya sesaat setelah Indonesia merdeka. Roman ini adalah cerita realis, idealis, dan nasionalis. Seorang bapak yang ikut memperjuangkan kemerdekaan negaranya, lantas setelah merdeka, ia memilih mengundurkan diri dari partai dan menjadi guru sekolah. Ditawari menjadi anggota legislatif, ia tidak mau. Hingga akhirnya, dia dan keluarganya harus terlunta miskin. Negara melupakannya, rumah sakit merawatnya di bangsal gratis yang artinya dirawat bersama dengan para miskin lainnya. Dokter di rumah sakit itu pun hanya satu. Rumahnya reyot, tak layak tinggal. Diakhir cerita si bapak meningggal dunia bersama sakitnya. Ada banyak pelajaran hidup yang realistis di dalamnya, yang saya rasa tak menggurui. Novel tipis ini terbit pertama kali tahun 1951. Apa yang terjadi di dalamnya, toh, masih terjadi saat ini, setidaknya hingga akhir 2015. Bagaimana orang-orang saling sikut berebut harta, tahta, dan jabatan, menghalalkan segala cara. Sementara di tempat lain, orang-orang miskin pontang panting bertahan hidup.


2. Little Prince.


Saya menemukan cerita ini dalam bentuk buku di instagram, dari seorang keren yang saya ikuti. Belakangan saya tahu Dian Sastro pun ternyata membacanya dan dia amat terkesan. Tapi ini bukan masalah Dian Sastro membacanya atau tidak. Secara kebetulan judul ini juga pernah saya dapati di komputer jinjing seorang teman. Makanya, dengan penasaran saya meminta salinan filmnya. Saya menonton tanpa ekspektasi dan penggambaran sebelumnya. Film animasi dengan dua teknik ini mengisahkan perihal pertemuan anak perempuan kecil dengan seorang kakek yang merupakan tetangganya. Si kakeklah yang kemudian menuturkan tentang Little Prince yang pernah ditemuinya, yang hidup seorang diri di sebuah planet yang hanya sebesar dirinya. Beberapa tokoh dalam film ini nyata ada di dunia yang kita tinggali. Hanya saja dalam bentuk sifat dan karakter : sok bijaksana, sok dewasa, dan senang dipuji adalah beberapa diantaranya. Pada sisi lain kenyataan bahwa kita tumbuh menjadi dewasa dan melupakan jiwa kanak-kanak kita, adalah pelajaran lain film ini. Saya rasa kamu perlu menonton film ini, jika tak sempat membaca bukunya. Saya tercengang sehabis menontonnya dan membuat berpikir beberapa jenak. Oh iya, film ini awalnya buku. Judul aslinya Le Petit Prince, ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery, salah satu film Perancis yang saya tonton tahun ini selain Amelie Poulain. 


3. Silampukau - Dosa, Kota, dan Kenangan.


Menurut waktunya, saya sebenarnya salah urut. Silampukau adalah hal pertama yang saya dapati, kemudian Little Prince, terakhir Bukan Pasar Malam. Setelah membaca Bukan Pasar Malam, saya berpikir, ternyata beberapa hal yang saya dapati tahun ini adalah pelajaran besar tentang kehidupan. Mama sepanjang tahun sakit, saya harus bolak balik Sengkang menemaninya sambil merampungkan penelitian dan pemotretan saya untuk tugas akhir. Kekesalan saya terhadap perubahan yang terjadi pada Makassar, tempat saya menetap beberapa tahun belakangan membuatnya semakin lengkap. Hingga di November kemarin, saya menghabiskan banyak waktu dengan Herman, teman sekelas saya. Dia merekomendasikan dua album, FSTVLST dan Silampukau. Album FSTVLST yang diperdengarkan rilis tahun lalu, sedangkan Silampukau adalah album 2015, keduanya menarik. Dua album ini tidak bisa dibandingkan, masing-masing hebat dalam pemilihan kata untuk lirik-liriknya, menurut saya. Maaf, saya tak tahu apa-apa tentang musik. Saya hanya dicandu kata-kata, saya mencintai kata-kata. Kata Aan Mansyur, kata-kata adalah semeseta. Dosa, Kota, dan Kenangan berisi 10 lagu, semua berlatar Surabaya, kota asal band ini. Dan saya rasa, apa yang terjadi di lagu-lagu itu, juga terjadi disini, Makassar. Dan hidup yang saya lalui setahun ini.

Selamat tahun baru 2016!

***