Sunday, 10 September 2017

Makanan dan Masa Depan Kita

Gambar: The Daily Dot
Terlepas dari jaring laba-laba di sudut kamar, dia terbang perlahan naik turun membawa tubuhnya yang berat. Bisa dibayangkan betapa besar usaha yang dikerahkan sehingga bisa keluar dari perangkap laba-laba dengan tubuh seberat itu. Sebaliknya, tidak butuh tenaga lebih untuk mematikannya. Plak! 

Sekali tepukan darah segar berceceran di telapak tangan saya. Keadaan susah bergerak ini akan dialami oleh sebagian besar makhluk hidup ketika tubuhnya berat. Salah satu faktor meningkatnya berat tubuh adalah tidak dikonsumsinya makanan sehat serta kurangnya aktivitas fisik.

Dari nyamuk yang saya tepuk semalam itu, saya mengingat orang tua Chihiro di film Spirited Away (2001) saat mencari rute terdekat ke rumah baru mereka namun kesasar di sebuah desa kecil yang penuh dengan restoran. Walaupun restoran tersebut tidak berpenghunimakanan terhidang dengan bebas dan lezatnya. Tanpa pikir panjang, orang tua Chihiro langsung menyantap makanan-makanan tersebut. Namun tidak dengan Chihiro, dia menolak makan dan memilih berkeliling karena takut terhadap pemilik restoran akan marah jika langsung menyantap makanan mereka begitu saja. Sepulangnya, Chihiro mendapati ayah dan ibunya melahap semua makanan yang ada di restoran dan berubah menjadi babi raksasa. Makanan-makanan itulah yang menjadi sumber malapetaka bagi Chihiro dan keluarganya.

Bagian awal animasi fiksi ini menjadi bahan refleksi akan petaka akibat mengonsumsi makanan yang tidak sehat dalam jumlah berlebihan. Tidak sulit mencari referensi mengenai penyakit yang ditimbulkan dari makanan-makanan tersebut. Salah satu penyakit yang paling populer adalah diabetes. Jared Diamond, ilmuwan Amerika Serikat peraih Pulitzer Prize pada 1998, mencatat hasil penelitiannya tentang kesehatan masyarakat modern saat ini di bukunya The World Until Yesterday (2012). Bahwa yang menjadi pembeda antara masyarakat saat ini dengan masyarakat yang hidup di kisaran tahun 1936 adalah tubuh mereka kelebihan berat badan, ‘perut bir’ menggelambir di atas ikat pinggangnya. Jared mencatat bahwa mayoritas masyarakat hari ini mengidap Non-Communicable Disease (NCD) yang diartikan sebagai penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang satu generasi silam tidak dikenal.

Sedangkan di Indonesia sendiri—menurut data WHO pada 2016, dari 1980 ke 2014 jumlah penderita penyakit diabetes terus meningkat dengan pengidap tertinggi adalah wanita dan pada 2030 diprediksikan untuk menduduki posisi lima besar dunia—negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi.  Jika ditilik lebih lanjut, diabetes dibedakan menjadi dua tipe. Tipe 1 atau insulin dependent diabetes dimana hanya sekira 10% orang yang mengidap penyakit ini dan rata-rata menyerang orang-orang berusia muda. Salah satu cirinya adalah tubuh yang mengurus. Sedangkan tipe 2 atau non-insulin dependent diabetes adalah yang diderita oleh 85% orang saat ini. Diabetes tipe 2 ini berkembang secara bertahap dalam jangka waktu yang panjang dan menyerang orang dewasa dan orang tua. Sebagian besar penyakit ini tidak terdeteksi sampai muncul komplikasi dengan penyakit lain seperti kerusakan mata, ginjal, jantung, dan berakhir pada kematian dini.

Sumber: WHO Diabetes Global Report

Menurunnya berat badan dan hal-hal yang saya lakoni.

“Kamu terlihat kurus!”
“Eh, kamu kelihatan beda. Hampir saya tidak mengenalimu.”
“Ckck.. Kamu turun berapa kilo?”
“Seperti ini lebih baik, lebih sehat.”

Dengan tidak berada di Makassar selama kurang lebih tujuh bulan, saya ditodong pernyataan-pertanyaan di atas oleh teman-teman. Dan tanggapan yang selalu saya ulang, “Iya, turun 15 kilo dalam 6 bulan.” Iya, saya kehilangan berat badan 15 kilo. Awalnya dari 80 kg menjadi 65 kg—hingga saya menuliskan postingan ini jarum timbangan menunjuk angka 63. Pernyataan-pertanyaan dari teman-teman saya itu kemudian akan berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan lain tentang bagaimana menurunkan berat badan.

Hari ini, proses menurunkan berat badan adalah hal yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit diejawantahkan.

Saya berulang kali membuat penegasan bahwa saya tidak sedang dalam program diet sehat. Dalam kurun waktu 6 bulan itu saya hanya memperbaiki pola makan. Pencapaian berat badan 80 kg itu sebenarnya diakibatkan oleh pola makan yang tidak teratur serta gaya hidup yang tidak sehat. Bayangkan saja, dulu saya melahap sarapan sepiring nasi kuning di pagi hari, setelahnya menikmati banyak kue yang dijual di kitaran rumah mulai dari lopis, kue lapis, jalangkote, panada, atau roti pawa. Siangnya saya makan nasi, ikan bakar dan sop saudara, pallumara atau coto makassar. Bakso dan mie pangsit di sore hari atau kalau lagi seret, indomie goreng bertabur potongan cabai jadi alternatif. Malam harinya saya melahap nasi goreng, ayam lalapan atau songkolo. Terima kasih Makassar untuk pilihan makanan yang tiada batas!

Makan di malam hari bisa jadi dua kali karena saya makan di awal malam dan makan di tengah malam. Percayalah, begadang membuat orang lapar. Jika kamu menilai saya sebagai orang kaya, maka kamu salah besar. Saya hanya punya banyak pilihan tempat makan yang murah dengan rasa tidak murahan. Rupa-rupa makanan tersebut dengan sadar saya masukkan ke dalam perut dalam porsi yang berlebihan, kebodohan terbesar yang pernah saya perbuat.

Hari ini saya mengurangi dan membatasi semuanya. Di pagi hari tidak ada lagi nasi. Yang ada hanya jus tomat, jus wortel, atau pisang rebus yang saya beli di pasar tradisional dengan harga murah. Untuk stok sarapan empat hari, saya hanya butuh Rp 15.000,-. Agar tidak bosan, saya sering menambahnya dengan bassang, makanan khas Makassar bubur yang terbuat dari jagung pulut, tepung terigu, air, tanpa gula. Di siang harinya saya menikmati makan siang dengan sedikit nasi, sayur hijau, ikan, telur, tahu atau tempe yang kesemuanya saya masak sendiri. Lumayan, bahan makan siang dua-tiga hari hanya sekisar Rp. 15.000 hingga Rp. 25.000,-. Dan untuk pengganti makan malam, saya makan sore. Menunya berupa apa saja—tanpa daging atau nasi.

Foto: Jumardan Muhammad
Selain berhemat, saya merasa jauh lebih sehat. Menariknya, celana dan baju yang sudah saya tidak gunakan sejak tiga tahun lalu karena kesempitan dapat kembali saya kenakan. Hal-hal inilah yang saya ceritakan ke orang-orang ketika menanggapi perubahan bentuk tubuh saya. Oiya, karena saya senang memotret, maka sejak beberapa bulan lalu, saya pun mengurangi pemakaian kendaraan bermotor. Tempat-tempat yang dapat saya jangkau, saya tempuh dengan jalan kaki atau jika kejauhan saya menggunakan sepeda. Mengecilnya perut buncit dan tersalurkannya hobi fotografi saya adalah salah dua manfaat dari hal-hal ini.

Kebiasaan begadang pun saya hilangkan. Di malam hari saya tidur paling lambat pukul 10 dan bangun pada pukul 4 pagi. Pekerjaan-pekerjaan yang belum terselesaikan saya kerjakan di awal hari dan membuat perencanaan-perencanaan tentang apa-apa saja hal yang harus saya kerjakan dalam satu hari. Kebiasaan baru ini membuat saya jauh lebih terorganisir.

Alternatif hidup sehat tanpa ribet.

Jika kamu tinggal di Jakarta dengan aktivitas padat sehingga tidak sempat melakukan apa yang saya lakukan, Gorry Gourmet di websitenya https://gorrygourmet.com/ dan aplikasi smartphonemu https://goo.gl/vWENMp siap menjadi asisten kesehatan pribadimu dalam melakukan program hidup sehat, baik itu menurunkan berat badan, menangani kasus kebutuhan khusus bagi mereka yang mengidap penyakit tertentu, menaikkan massa otot, bahkan memenuhi cemilan harianmu. Dengan membuka website atau aplikasinya, kamu dengan akan dengan sangat mudah menemukan berbagai varian paket sesuai kebutuhanmu. Saya tidak akan menjelaskan di sini karena mereka punya semuanya di sana. Tentu saja, makanan sehat di Gorry Gourmet semuanya ditangani oleh para profesional, baik chef, ahli gizi hingga kurir yang mengantarkan makananmu, sehingga semua yang kamu makan sudah terukur gizinya. Selain itu, masalah harga kamu tidak usah khawatir karena ada banyak promosi yang mereka sediakan untukmu. Kesemua promosi itu malah disampaikan melalui layanan chat di websitenya. Oiya, kedepannya tentu saja kita berharap Gorry Gourmet tidak hanya ada di Jakarta, tapi juga di seluruh kota di Indonesia agar prediksi WHO tentang jumlah penderita diabetes di Indonesia di masa mendatang dapat meleset.

Sumber: https://gorrygourmet.com/
Percayalah, melakoni hidup sehat sungguh sangat menyenangkan. Umur saya memang masih 25 tahun, tapi sejak dini saya berusaha untuk menghindari penyakit-penyakit yang diidap oleh kebanyakan orang tua hanya gara-gara hidup tidak sehat dengan pola makan tidak teratur di masa mudanya. Pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang mengancam sungguh sangat tidak murah, sedangkan untuk  hidup sehat itu murah. Karena kita tentu tidak mau seperti nyamuk yang tadi saya tepuk, barangkali kita harus bersepakat dengan adagium; makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan karena kita adalah apa yang kita makan.

***

Referensi:
1. The World Until Yesterday - Jared Diamond: https://www.goodreads.com/book/show/15766601-the-world-until-yesterday 
2. Voa Indonesia: https://www.voaindonesia.com/a/kasus-diabetes-di-dunia-capai-rekor-tertinggi-tahun-ini/1789917.html
3. WHO: http://www.who.int/diabetes/global-report/en/

*Tulisan ini diikutkan dalam Wellness Blog Competition GorryGourmet yang berlangsung dari 10 Agustus hingga 30 September 2017, klik di sini jika ingin berpartisipasi https://goo.gl/1gZfm3

0 Comments:

Post a Comment