Bulan Suci di Tengah Pandemi

By Ardan - April 24, 2020


Ramadan kini tidak akan pernah lagi sama. Hidup telah jauh berubah.

Jelang lebaran tahun 2018 saya memaksakan pulang ke Sengkang untuk berlebaran dengan bapak dan mama. Di kantor saya izin WFH, toh, keesokan harinya sudah masuk masa libur lebaran. Kubilang pada mama yang bertanya, "Saya tidak akan pernah tahu kapan kita bisa berlebaran sama-sama lagi."

Sebulan setelah lebaran; saya dan Ade melangsungkan pernikahan. Ade seorang perawat. Yang kukatakan pada teman-teman tiap kali bertanya mengenai kepulangan saya di libur lebaran, "Pasien tidak pernah libur."

Ade bekerja di rumah sakit. Meskipun di kantor saya selalu punya libur lebaran yang panjang dan bisa ditambah dengan cuti tahunan, Ade tidak demikian. Jadwalnya berbeda dengan para pekerja kebanyakan. Libur lebaran di ruangan tempatnya bekerja harus digilir, sehingga bisa jadi hanya satu dua perawat yang bisa bebas tugas saat Idul Fitri tiba.

Hal inilah yang saya prediksi sebelum kami menikah. Apalagi sebagai pasangan yang baru memasuki kehidupan rumah tangga, penting bagi kami untuk selalu bersama.

Lebaran 2019 Ade hamil. Waktu itu bertepatan dengan pertengahan ramadan. Dia mendapat cuti hingga hari raya Idul Fitri. Ketimbang berlebaran di kampung halaman, kami memutuskan untuk berjalan-jalan ke Malaysia dan Singapura selama lebih dari seminggu.

Selama dua tahun terakhir saya menghabiskan ramadan dengan tetap berkantor. Sahur dini hari, berangkat kantor pagi hari, dan pulang setelah berbuka puasa.

Berbeda di masa-masa sekolah dulu di mana saat ramadan tiba, saya libur sebulan. Di hari-hari tersebut, saya akan menghabiskannya dengan rajin ke masjid salat 5 waktu dan tarawih—di rumah saya tilawah. Tentu saja dengan paksaan mama.

Namun, hal tersebut kini sudah tidak berlaku. Ramadan kini tidak akan pernah lagi sama. Hidup telah jauh berubah.

***


Beberapa jam sebelum sahur pertama di mulai, sepucuk surel masuk di kotak pesan. Sistem bekerja dari rumah yang diterapkan kantor sejak sebulan terakhir kini diperpanjang hingga 22 Mei 2020.

Virus Corona (Covid-19) yang tak tampak itu membuat kehidupan banyak orang berubah, termasuk saya. Ade suatu malam mengingatkan saya, "Kamu tidak ingat dengan pertanyaan. "Bisa ga ya kita tidak usah ke kantor untuk bekerja, namun gaji dan bonus tahunan tetap jalan?""

Pertanyaan tersebut terjawab sebulan lalu. Gaji dan bonus tahunan masuk ke rekening bank, walau saya bekerja dari rumah. Tentu saja hal ini tidak akan terwujud tanpa Covid-19.

Hmm.. Saya tidak mensyukuri kondisi ini, ya 😅

Ramadan kini tidak akan pernah lagi sama. Hidup telah jauh berubah.

Hari pertama ramadan tahun ini berhasil membuat saya lemas selemas-lemasnya. Bagaimana tidak, saat sahur saya tidak sempat minum kopi. Selama bertahun-tahun belakangan saya memang selalu menenggak secangkir kopi hitam tanpa gula; hanya untuk membuat saya bersemangat hingga beduk magrib tiba.


Soalnya, pekerjaan yang saya lakoni memerlukan fokus, sehingga jalan keluarnya adalah ngopi saat sahur.

Menariknya, pekerjaan saya selama ramadan bertambah tahun ini. Di antara Ade dan saya sudah ada Alinea. Usianya 3 bulan 17 hari saat saya menuliskan ini. Kemampuan baru yang dia miliki baru-baru ini adalah tengkurap.

Saban kali telentang di kasur, dia akan berusaha membalik badannya dengan susah payah. Dia belum paham benar di mana meletakkan tangan saat ingin tengkurap, tapi keinginannya tetap menyala-nyala.

Selama ramadan Ade tetap harus ke rumah sakit. Sementara saya akan menghabiskan pukul 7 pagi hingga 3 sore bersama Alinea. Oiya, kapan-kapan saya ceritakan pengalaman menarik menjaga anak ini.

Berbeda dengan tahun sebelumnya di mana kami ngekos dengan dapur umum, tahun ini kami punya dapur pribadi di rumah kontrakan. Ada kulkas buat menyimpan bahan makanan dan segala peralatan untuk membuat berbagai macam menu makanan sudah tersedia.

"Tahun lalu kita sahur dan berbuka puasa dengan menu yang tidak jelas," ujar Ade saat sahur kedua ramadan tahun ini.

Iya, memasak dengan dapur terpisah dari ruang tinggalmu membuat segalanya lebih repot dan lama. Apalagi letak kamar kosan kami dulunya berada di lantai 2 dan dapur terletak di lantai 1. Jika lupa membawa peralatan masak atau bahan makanan, mau tidak mau kita harus ke atas. Kondisi ini jelas menghabiskan banyak waktu.

Belum lagi, kamu harus bangun lebih awal jika tidak ingin mengantri di dapur untuk masak. Mengingat hal ini selalu membuat saya mengucap syukur.

Di hari pertama ramadan, kami punya banyak stok makanan. Ade sampai bilang kalau kita tidak perlu memesan Grab Food hingga beberapa hari ke depan. Kemarin sore, paketan dari bapak tiba. Isinya macam-macam mulai dari bolu, sambal, hingga mainan buat Alinea.

Beberapa hari lalu saya sempat ke pasar dan stok sayur dan bahan makanan lainnya masih aman. Kemarin sore Ade juga membeli banyak bahan untuk es buah. Dengan begini, kami tampaknya tidak perlu memesan makanan online untuk beberapa waktu.


Saya harus jujur mengakui ini kalau memesan makanan di Grab Food atau Go Food merupakan kesukaan saya. Di awal April saya sempat mengalami cacar air. Saya di rumah sendirian. Ade dan Alinea harus mengungsi sementara ke rumah omnya agar Alinea tidak tertular.

Selama 11 hari saya hanya makan dari makanan yang saya pesan melalui aplikasi tersebut.

Pada ramadan tahun ini kami tidak harus buru-buru bangun untuk menyiapkan sahur. Cukup memasak lebih banyak saat buka puasa agar kami punya makanan siap santap saat sahur. Dapur pribadi yang kami punya pun memungkinkan untuk memasak setiap saat.

Satu hal barangkali yang akan saya rindukan di bulan suci ini adalah ikan bakar bapak atau mie kering. Kami sebenarnya bisa merasakan kedua makanan ini, tetapi kami tidak yakin bisa ke Rumah Makan Pelangi; rumah makan yang menyediakan ragam menu makanan Makassar.

Covid-19 menjadi kambing hitam untuk hal ini.

Ramadan memang tidak akan pernah lagi sama, apalagi di Jakarta. Tidak ada lagi radio mama yang bunyi saat jam-jam sahur dan berbuka, tidak ada salawat di masjid, dan tidak ada anak-anak berburu tanda tangan di buku amaliyah ramadannya.

Semoga kita selalu dilimpahkan keberkahan dan kesehatan untuk menjalani bulan suci di tengah pandemi 😊

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

2 komentar

  1. Selalu memang berhasil menggugah tulisannya ine temangku

    ReplyDelete
  2. I like your daughter's name. Ini mi sebenar2nya dibilang, orangnya desainer, tapi jiwanya tetap sastra~

    ReplyDelete

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊