Trip to Forgive: Seberapa Mampu Perempuan Memaafkan?

By Ardan - March 09, 2021

buku-trip-to-forgive

Mari bersepakat bahwa memaaafkan bisa menjadi sarana penyembuhan yang ampuh bagi diri sendiri. Sayangnya, kemauan untuk memaafkan dan menerima tidak bisa hadir secara alami bagi laki-laki dan perempuan.

Penelitian dari Case Western Reserve University, Amerika Serikat, pada Maret 2008 menemukan bahwa laki-laki lebih sulit memaafkan dibandingkan dengan perempuan. Meski kemudian, laki-laki bisa melatih kemampuan memaafkan ini dengan menumbuhkan empati.

Saya tidak akan melanjutkan penjelasan mengenai penelitian tersebut, tetapi saya akan mengajak kamu untuk melihat secara keseluruhan cerita-cerita yang hadir di dalam buku Trip to Forgive: Perjalanan Perempuan Menemukan Cahaya di Balik Luka.

Buku ini sebenarnya adalah antologi yang digagas oleh Diah Mahmudah dan MLP Support Group berdasarkan kisah nyata dari 21 orang perempuan sebagai pelampiasan terhadap kenyataan hidup yang dialami masing-masing penulis.

Dalam pengatarnya Diah Mahmudah membuat kutipan yang kemudian saya sepakati: Writing is Healing. Sharing is Healing.

Dengan menulis dan membagikan cerita-cerita yang ada bisa menjadi penguat kepada setiap orang yang membacanya, khususnya perempuan. Soalnya, setiap perempuan bisa saja memendam kekesalan, rasa gelisah, sakit hati, serta berbagai perasaan negatif yang meliputinya.

"Dalam perjuangan pemulihan luka batin setiap orang bisa saja punya titik start berbeda, tetapi hanya ada satu titik finish yang sama: ingin memaafkan. Dengan memaafkan jiwanya terlepas dari kebencian yang menungkung jiwa."

buku-trip-to-forgive

Pada kisah Violin Novelia berjudul Jalan Takdirku; di mana di usia 11 tahun dia harus menghadapi kenyataan ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi, dan dia dimasukkan ke pesantren dengan alasan agar terbebas dari pergaulan bebas.

Meski kedengarannya sepele, kita tidak pernah tau bahwa seorang anak kecil itu bisa menyimpan ketidaksenangan terhadap fase kehidupan yang dilaluinya, termasuk kerinduan terhadap sang ibu.

Siapa sangka bahwa hal-hal kecil yang dilaluinya semasa kanak-kanak bisa dipendam hingga ia tumbuh dewasa dan punya anak?

Lain cerita dengan Julie Rostina berjudul Mama, Kunanti Bahasa Cintamu. Walaupun dia punya ibu yang mendampinginya hingga dewasa, cerita masa kecilnya tidak berakhir bahagia. Di satu peristiwa di usianya yang masih kanak-kanak, misalnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya tidak mampu memberikan apresiasi terhadap upaya yang dilakukannya.

Padahal di usia tersebut, setiap anak cenderung berusaha mencuri perhatian orang tuanya dan berharap pujian. Lanjut Julie bahwa di Indonesia penerapan Three Magic Words: Terima Kasih, Kata Maaf, dan Minta Tolong memang belum lumrah.

Kata-kata sederhana inilah yang dinanti oleh Julie Rostina kecil. Namun, apa yang diterima justru berkebalikan.

Sebenarnya masih banyak cerita-cerita menarik yang bisa diambil hikmahnya kemudian diimplementasikan ke dalam hidup kita. Hal ini punya yang menjadi alasan mengapa buku dengan tebal 260 halaman ini tidak hanya cocok dibaca oleh perempuan, tetapi juga laki-laki.

Baca juga: Buku Persiapan Menjadi Ayah

buku-trip-to-forgive

Dari sudut pandang perempuan inilah yang bakal memberikan kita pandangan baru dan dengan begini kemampuan untuk berempati pun bisa muncul. Seperti yang saya sebutkan di awal.

Yang tidak kalah menarik, di halaman 32, Diah Mahmudah memetakan perjalanan memaafkan bagi perempuan.

Zona paling awal disebutnya sebagai Zona Mental Korban. Di sini biasanya beragam hal terjadi antara lain, benci pada diri sendiri, menyalahkan orang tua dan Pencipta, atau pemaafan palsu yang lain di mulut, lain di hati.

Berikutnya ada Zona Belajar di mana seseorang biasanya melakukan introspeksi secara rasional, menyadari self poisoning, mencari bantuan teman dan profesional, serta emosi cenderung stabil. Dari sini kemudian seseorang akan masuk ke Zona Bertumbuh dengan mencinta diri sendiri, memaafkan orang tua dengan tulus, serta menerapkan ilmu dan pembelajaran yang didapatkan.

Terakhir, barulah seseorang masuk ke Zona Beriman yang meliputi pribadi welas asih, penuh empati, dan pemaaf, mendekatkan diri pada Allah SWT, serta peka menggali makna.

Untuk yang terakhir mungkin bakal butuh waktu yang tidak sebentar. Namun, ketika kita tidak mencoba, kapan kita bisa memaafkan?

***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

0 komentar

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊