Catatan Penting Dari Festival Isi Piringku Adalah Stunting. Apa Itu?

stunting-adalah

Ketika postingan ini dibuat, Alinea beberapa hari lagi menginjak usia 14 bulan. Dua bulan terakhir dia begitu susah makan.

Butuh sejam lebih untuk menemaninya makan. Ade dan saya pusing bukan kepalang.

Kita tentu sama-sama tahu kalau 2 tahun pertama dalam kehidupan sangatlah penting. Meski beberapa tahun berikutnya juga tidak boleh dianggap sepele. Soalnya, perjalanan dia mendapatkan asupan gizi bakal menentukan masa depannya.

Mari bersepakat bahwa apa yang dikonsumsi seorang anak di awal-awal kehidupannya memainkan peran yang sangat signifikan terhadap hari-harinya di masa mendatang. Tanpa asupan gizi yang baik, mustahil dia bisa tumbuh dengan sehat dan normal.

Beruntungnya, pengetahuan soal apa yang sebaiknya seorang anak konsumsi dan hal-hal yang meliputinya tersebar banyak di internet. Meski demikian, setiap orang tua tidak boleh menelan bulat-bulat apa yang ada di dunia maya. Setiap orang perlu kemampuan mencerna informasi agar tidak salah.

kasus-stunting

Ketika postingan ini dibuat, saya baru saja mengikuti Festival Piringku yang digelar oleh Danone Indonesia. Berkolaborasi dengan IPB University, gelaran ini mengambil tema Membangun Generasi Sehat Melalui Edukasi Gizi Seibang Sejak Dini.

Baca Juga: Fungsi Zat Besi Terhadap Masa Depan Bangsa Ini

Agar lebih fokus, festival ini hanya menyajikan informasi untuk anak usia 4-6 tahun. Namun, hal ini bukan berarti saya tidak bisa ikut 'kan?

Lalu, apa yang saya dapatkan di Festival Piringku? 😆

Faktor Penyebab Stunting

Hampir semua masalah kesehatan yang ada di Indonesia masih masuk dalam daftar pekerjaan rumah yang sama-sama harus kita selesaikan, termasuk Stunting dan masalah gizi.

Data Riskesdas Kementerian Kesehatan 2018 menyebutkan bahwa 1 dari 3 anak masih mengalami Stunting. Oiya, buat kamu yang masih bertanya-tanya apa itu Stunting? Pada dasarnya, Stunting adalah masalah gizi berupa gagal tumbuh yang terjadi selama jangka waktu yang panjang.

Namun, sebelum melangkah lebih lanjut, saya ingin kamu tahu kalau masalah gizi ternyata punya dampak buruk jika tidak segera ditangani. Dampak tersebut antara lain:

  • Produktivitas & daya saing rendah
  • Pertumbuhan & perkembangan anak tidak optimal
  • Risiko penyakit & infeksi naik
  • Imunitas rendah

Saat sebuah negara punya kasus Stunting yang tinggi, maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang rendah. Akibatnya, negara tersebut akan mengalami kerugian ekonomi. Maka dari itu, angka kecukupan gizi seorang anak harus terus diperhatikan mulai sejak sebelum dan setelah dia lahir.

Jika bahasan di atas yang dipaparkan oleh Dr. Rr. Dhian Proboyekti Dipo, SKM, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan dan Prof. Dr. Ir. Sri Anna Mariliyati, MSi Ahli Gizi dan Ketua Tim Ahli Pengembang Modul "Isi Piringku"—terlalu berat, maka saya akan membuatnya personal.

Dampak Stunting Pada Anak

Jangka pendek menyebabkan gangguan:

  • Perkembangan otak & kecerdasan
  • Pertumbuhan fisik
  • Metabolisme tubuh

Jangka panjang menurunkan:

  • Kemampuan kognitif, perkembangan fisik, & prestasi belajar turun
  • Sistem kekebalan tubuh melemah
  • Risiko diabetes, obesitas, jantung, strok, & disabilitas di usia tua

Nah, setiap orang tua tentu tidak ingin jika anaknya mengalami dampak buruk akibat Stunting tadi 'kan? Sekarang muncul lagi pertanyaan. Apa yang bisa kita lakukan untuk menangani hal ini? 😒

Cara Mencegah dan Mengatasi Stunting

cara-mencegah-dan-mengatasi-stunting

Demi mencegah dan mengatasi Stunting, jawabannya sederhana saja, yakni penerapan gizi seimbang. Kementerian Kesehatan membuat panduannya berupa Tumpeng Gizi Seimbang.

Pilar 1: Konsumsi pangan beraneka ragam (protein, lemak, vitamin, & mineral)

  • Karbohidrat untuk energi: nasi, ubi, roti, mie, dan jagung
  • Protein untuk pertumbuhan & regenerasi sel: ayam, ikan, tahu tempe, dan telur
  • Vitamin & Mineral untuk metabolisme & sistem kekebalan tubuh: sayur dan buah-bahan
  • Air putih

Pilar 2: Biasakan perilaku hidup sehat, seperti mandi yang bersih, cuci tangan, sikat gigi, & buang sampah pada tempatnya.

Pilar 3: Lakukan aktivitas fisik, misalnya bermain & berolahraga.

Pilar 4: Pertahankan dan pantau berat badan normal dengan menimbang anak setidaknya sebulan sekali.

Baca Juga: Pedoman Gizi Seimbang Anak Selama di Rumah

Perlu dicatat bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, ada banyak di sekitar kita yang bisa dikonsumsi. Jadi, tidak perlu berpikir untuk ke supermarket dan membeli bahan makanan dengan harga mahal ✌

pedoman-gizi-seimbang

Lalu, ada pesan gizi seimbang yang perlu diperhatikan untuk anak usia 4-6 tahun, yakni sebagai berikut:

  1. Makan 3x sehari: pagi, siang, dan malam
  2. Perbanyak konsumsi makanan kaya protein: ikan, telur, tempe, tahu, dan susu
  3. Perbanyak sayur dan buah
  4. Batasi makanan selingan yang teralu manis, asin, dan berlemak
  5. Minum air putih sesuai kebutuhan
  6. Bermain bersama dan lakukan aktivitas fisik setiap hari.

Pemerintah tak bisa sendiri. Swasta, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat perlu sinergi serta harmonisasi demi perbaikan gizi masyarakat. Siap ambil bagian? 😎

***