5 Buku Mojok yang Dibaca di 2021

buku-mojok

Satu hari mama pulang dari sekolah. Di bagian depan motor vespanya terikat setumpuk buku. Kebanyakan terbitan Balai Pustaka dan punya cap SMAN 1 SENGKANG.

Sebagai salah seorang guru bahasa Indonesia senior, mama punya akses yang lebih luas terhadap buku-buku tersebut.

Saya yang tumbuh sebagai anak yang jarang keluar rumah dan tidak punya banyak teman kemudian menghabiskan masa kecil dengan buku-buku tersebut.

Beberapa buku yang saya ingat antara lain Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Harimau! Harimau!, Sepotong Senja untuk Pacarku, Azab dan Sengsara, Siti Nurbaja Kasih Tak Sampai, serta Sengsara Membawa Nikmat.

Saya menyusun semuanya ke dalam rak buku buatan bapak berukuran 1x1 meter. Sepulang dari sekolah atau selepas makan malam saya tenggelam dengan buku-buku tersebut.

Di bagian ini saya sebenarnya bertanya-tanya, "Kenapa saya tidak jadi sastrawan, ya?"

Soalnya, cerita seperti ini biasanya dituturkan oleh seorang penulis sastra di sebuah seminar; tentang bagaimana ia dipengaruhi oleh bacaan-bacaan semasa kecilnya. Ah, sudahlah...

Lanjut, gairah saya terhadap buku kemudian menjadi-jadi saat berkuliah. Punya uang bulanan dari orang tua membuat saya rutin ke Gramedia. Dulu, Gramedia di Mall Panakukkang punya sofa. Saya bisa duduk dan membaca buku sebelum membelinya.

Uang bulanan tersebut selalu saya belikan buku. Di akhir-akhir masa kuliah saya punya lemari aluminium kaca yang saya isi dengan buku-buku, kebanyakan sastra.

Setelah lulus kuliah, saya hijrah ke Jakarta. Di Jakarta lebih gila lagi. Ada banyak pilihan toko buku dengan koleksi yang sulit ditemukan di Makassar.

Oiya, harga buku di Pulau Jawa juga jauh lebih terjangkau dibanding harga buku di Makassar.

Dalam rentan waktu tersebut saya biasanya menghabiskan 5-6 buku sebulan.

Kebiasaan membeli buku ini terus berlanjut hingga hari ini; setelah saya menikah dan punya anak. Sialnya, dari 2020 ke 2021, jumlah buku yang saya habiskan sebulannya berkurang drastis. Bahasa halus dari saya yang hanya bisa mampu membaca satu buku setiap bulan. Padahal jumlah buku yang saya beli tidak sepadan.

Entah mengapa nafsu melahap buku baru ini makin hilang 😔

Kalau ingin beralasan, maka kecapean setelah bekerja seharian di rumah sambil membersamai Ade menemani Alinea adalah jawaban yang pas.

Meski saya paham bahwa alasan ini sih bakal bikin Ade atau Alinea mengomel jika mereka tahu. Tapi, di balik itu semua saya sejujurnya kecanduan mindless scrolling timeline di Instagram, Twitter, dan Facebook.

Nah, sebagai hukuman terhadap diri sendiri, jadilah saya mewajibkan diri membuat tulisan ini untuk kemudian ditayangkan di blog dan dipromosikan di media sosial agar kamu bisa baca.

Berikut ini 5 buku Mojok yang saya beli selama 2021 dan mencoba membacanya. Apakah semua buku tersebut selesai dibaca dan apa alasan saya memilih buku tersebut? Cekidot 😘

Baca juga: Lara Tawa Nusantara

Bagaimana Cara Mengatakan Tidak?

bagaimana-cara-mengatakan-tidak

Buku ini menjadi buku terbiatan Mojok pertama yang saya beli di 2021. Terbitnya sih September 2020 ya, tapi baru dibeli sekarang.

Ditulis oleh seorang perempuan Aceh bernama Raisa Kamila.

Waktu itu kebetulan saya lagi main ke toko buku Dialektika dan Bagaimana Cara Mengatakan Tidak? sudah beberapa kali muncul di linimasa saya; dibincangkan oleh pembaca dan juga penulis. Jadilah saya langsung menyerahkannya ke kasir untuk saya bawa pulang.

Ada 10 cerita pendek dengan total 140 halaman yang diceritakan melalui sudut pandang perempuan.

Tapi ya, 10 cerpen ini belum kelar saya baca semua hingga blog post ini terbit. Masih mentok di cerita ketiga. Tapi lagi nih, ketiga cerpen yang saya baca itu semuanya bagus-bagus. Saya tertegun lama setiap selesai satu cerpen.

Ya gimana, ceritanya sederhana, tapi sukses bikin saya sebagai pembaca merasa tidak nyaman setelahnya.

Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tidak Bersalah

adakah-air-mata-untuk-orang-orang-tak-bersalah

Buku ini juga saya beli di Dialektika. Toko buku ini memang jadi salah satu tempat favorit saya untuk mencari bacaan alternatif.

Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tidak Bersalah sebenarnya merupakan kumpulan tulisan Linda Christanty di media sosial yang dibukukan oleh Mojok. Linda Christanty memang salah satu penulis reportase andalan saya.

Dia menulis dengan storytelling yang baik, lalu dipadukan dengan data. Isu-isu berat kemudian bisa kita dicerna secara ringan.

Kalau mau dikategorikan, penulis kelahiran Bangka Belitung ini menulis dengan gaya sastra jurnalisme.

Terbit pertama kali pada Januari 2021, Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tidak Bersalah terdiri dari 36 tulisan yang berisi catatan pengalaman dan interaksi Linda dengan kehidupan.

Selain karena cara dia menulis yang baik, saya menyukai buku ini karena juga dekat dengan apa yang saya alami sehari-hari.

Baca juga: 5 Buku Terbaik di 2019

Menjadi Penulis Itu Tidak Sulit, Tapi Rumit

menjadi-penulis-puthut-ea

Di awal November kemarin Nimas mengirim uang 300 ribu untuk membeli barang apapun yang kami suka. Ini dalam rangka program offsite acitivity kantor di mana setiap orang dijatah uang untuk senang-senang.

Didadak seperti ini saya bingung dong mau beli apa. Sebagai jalan pintas, saya buka Shopee dan main ke toko online Dialektika. Saya check out 2 buku, salah satunya Menjadi Penulis Itu Tidak Sulit, Tapi Rumit yang ditulis oleh Puthut EA.

Saya belum pernah membaca karya Kepala Suku Mojok sebelumnya. Namun, saya khatam wawancaranya di YouTube dan tahu kalau dia adalah penulis yang disiplin, produktif, dan cepat. Puthut EA bahkan bisa bikin satu tulisan panjang dalam sekali duduk, beberapa ditulis di handphone.

Menjadi Penulis Itu Tidak Sulit, Tapi Rumit yang cetak pertama kali pada April 2020 berisi, aduh lebih dari 20 catatan-catatan pendek tentang dunia kepenulisan, mulai dari ide, kreativitas, hingga bagaimana penulis bisa terus bertahan di tengah dunia yang makin visual.

Meski padat, saya tidak bosan membaca buku ini karena cara bertuturnya yang jenaka dan mengharukan. Lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi lucu khas Mojok.

Oiya, buku setebal 196 halaman ini jadi buku tercepat yang saya lahap di 2021.

Baca juga: Menjelajah di Tanah Lada

Tentang Bagaimana Media Kecil Lahir, Tumbuh, dan Mencoba Bertahan

mojok-tentang-bagaimana-media-kecil-lahir-tumbuh-dan-mencoba-bertahan

Karena uang 300 ribu tapi tadi masih nyisa dan ternyata harus habis, saya membeli buku ini di Shopee yang dikirim dari Jogja. Harusnya sih beli di Dialektika ya, tapi stoknya kosong.

Buku ini saya temukan di Shopeenya Dialektika waktu scrooling, tapi belum kepikiran waktu itu. Beberapa hari setelahnya saya tidak bisa tidur karena belum punya buku ini.

Saya punya ketertarikan terhadap media online. Itu satu. Kedua, Mojok merupakan satu-satunya media online yang sejauh ini saya rasa berbeda dari kebanyakan media online lainnya. Mereka lucu, mampu menertawai segala hal, dan bisa menyajikan masalah berat untuk kita kunyah, bahkan tanpa harus punya gigi.

Adapun penulis yang mengisi buku ini adalah para punggawa Mojok di awal berdirinya.

Mulai dari para pemred tentang bagaimana mengelola dan menjaga idealisme Mojok, para ilustrator Mojok tentang bagaimana mereka meramu visualnya, hingga curhat para mimin Mojok.co.

Buku setebal 136 halaman ini dimaksudkan sebagai catatan perayaan 5 tahun berdirinya media yang berbasis di Jogja ini. Dan tentu saja, meski terbit pada Agustus 2019, buku ini saya rasa masih penting untuk dipelajari oleh mereka yang bergelut di media online.

Bahagia Mengerjakan Hal Sia-Sia

bahagia-mengerjakan-hal-sia-sia

Aduh, buku ini sebenarnya masih sedang saya baca, tapi tinggal beberapa tulisan. Dibeli barengan dengan buku sebelumnya.

Tenang saja, saya sudah membuatkan buku ini Instagram  Story dan menandai penulisnya di IG, Prima Sulistya 😅

Pertama kali terbit pada Februari 2019 setebal 205 halaman, buku ini hadir sebagai bacaan yang berhasil membuat saya terpingkal-pingkal di 2021. Kenapa sih cik Prim ga jadi stand up comedian saja?

Ada 43 esai yang terbagi ke dalam 3 bab. Semuanya dipilih langsung oleh Puthut EA yang merasa bahwa Prima harus menerbitkan buku. Oiya, semua tulisan di buku ini sudah pernah tayang di Mojok.co, jadi sebenarnya jika kamu pembaca Mojok, tulisan-tulisan ini tentu sudah dibaca.

Karena saya membacanya melompat-lompat, bagian Epilog yang diletakkan di akhir sudah sempat saya baca. Wah, bagian itu membuat saya menitikkan air mata haru. Kenapa?

Hidup yang dijalani Prima hampir sama dengan hidup yang saya jalani. Dulu, saya juga punya mimpi mengubah dunia, menjadikan Indonesia lebih baik. Tapi kok, makin ke sini, makin capek sendiri, ya dan berujung pada pemikiran, "Sudahlah, bahagia aja udah cukup kok."

Sialan juga cik Prim. Lebih dari separuh buku ini ada banyak humor-humor yang bekerja dan di akhir kita ternyata dibuat mikir.

Baca juga: Tiba Sebelum Berangkat

***

Banyak buku yang saya beli di 2021, tapi tidak banyak yang selesai dibaca. Menariknya, kebanyakan buku yang khatam itu adalah Buku Mojok. Harusnya, Romlah baca ini dan mengirimi saya 2-3 buku di 2022.

Buat kamu yang mencari alternatif bacaan dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari yang dikemas secara menarik hingga kamu terus ingin membaca buku tersebut sampai selesai, saya merekomendasikan Buku Mojok atau EA Book (saudara Buku Mojok).

Oiya, mereka juga menawarkan banyak diskon yang beneran murce. 2022 kita belanja Buku Mojok lagi kali ya? 😏

***