Menyesap Kopi Kong Djie

January 11, 2019

Kopi Kong Djie

Gara-gara mencari sandal jepit, saya tidak sengaja menemukan Kong Djie. Kedai kopi yang konon pertama kali berdiri pada  1943 menarik perhatian saya karena adanya tiga cerek besar berjejer di depannya.

Ketika mengintip ke dalam, saya menemukan berbagai barang yang tidak lagi ditemukan di kehiupan sehari-hari dipajang di dinding.

Saya meneruskan perjalananan, menyeberang jalan, kemudian mendapati kios yang menjual sandal jepit. Kebutuhan saya terjawab.

Kopi Kong Djie

Ade, Herdi, Emi dan saya sebenarnya sedang menunggu makan siang kami disajikan ketika saya keluar mencari sandal jepit di Jalan Kisamaun, Tangerang.

Seafood yang disiram dengan Saos Padang.

Tidak lama setelah saya tiba di tempat makan, pesanan kami datang. Kepiting, lobster, udang, kerang hijau, dengan  saos yang pedas tidak butuh waktu lama hingga semua tandas.

Sesudah itu, kami menuju kopi Kong Djie.

Baca juga: Kopi Enak di Indonesia

Kopi Kong Djie
"Kong Djie berakar dari Bahasa Hakka. Kong artinya terang, sementara Djie adalah nama anak nomor dua," Antara News.
Menurut teman saya sendiri yang sempat menghabiskan waktu liburannya di Belitung menyebut bahwa Kong Djie diartikan sebagai warung kopi oleh para penduduk lokal di sana.

Apapun makna kata Kong Djie, kopinya tetap enak.

Setibanya kami di kedai kopi Kong Djie di Jalan Kisamaun, Pasar Lama Tangerang tiap-tiap dari kami memesan minum. Herdi dan saya memesan kopi susu. Ammar memesan kopi hitam dan Ade meminta dibuatkan es teh susu.

Untuk penganan, saya memesan tape bakar.

Kopi Kong Djie

Menu Kopi Kong Djie

Oiya, sebenarnya ada berbagai macam menu minuman dan makanan kecil yang tersaji di kedai kopi Kong Djie. Beberapa di antaranya lengkap dengan harganya:

Minuman

Kopi O Panas/Dingin 12K/15K
Kopi Susu Panas/Dingin 15K/18K
Teh Susu Panas/Dingin 15K/18K
Cokelat Susu Panas/Dingin 15K/18K
Kopi Float 25K
Badak 12K
Badak Float 18K

Makanan

Tape Bakar/Goreng 10K
Tape Bakar Cokelat Keju 15K
Kentang Goreng 15K
Mie Udang Belitung 25K
Otak-otak 18K
Pisang Meler 15K
Roti Bantal 13K

Tuh, murah-murah kan? 😆

Kopi Kong Djie

Kopi Kong Djie

Di samping tempat kami duduk, ada radio tape yang terletak di atas rak yang terdiri dari 3 bagian. Seluruhnya diisi oleh kaset pita.

Duh, ini masih awal 2019 dan entah kapan terakhir kali saya melihat benda ini.

Lagu-lagu Westlife dari album mereka Turn Around mengalun ketika pesanan kami datang.

Saya mencicipi satu persatu minuman. Yang banyak saya sesap adalah kopi hitam yang dipesan Ammar.

Kopi yang tiba di meja kami adalah kopi yang dibuat dan disajikan dengan tipis-tipis. Tidak seperti kopi pada umumnya. Meski tipis, tetap saja kopinya kuat dan pekat.

Untuk tape bakar, ada bagian yang agak hangus di atasnya namun tidak menghilangkan cita rasa tape seperti biasa. Makanan berbahan dasar singkong ini kemudian disiram dengan susu kental manis.

Tidak butuh waktu lama untuk menandaskannya.

Baca juga: 2 Warung Kopi di 2 Kota Berbeda

Kopi Kong Djie

Kopi Kong Djie

Yang menarik perhatian saya selain radio tape adalah rak-rak buku yang menempel di dinding belakang tempat kami duduk. Ada tiga rak yang bersusun memanjang.

Di atasnya berderet buku-buku.

Kamu tahu buku apa yang paling banyak? Agatha Christie 🙇

Seluruh buku itu memiliki gaya desain yang sama. Tampaknya, si empunya membelinya bersamaan karena tampilan desain yang beredar saat ini sudah sangat berbeda.

Selain buku-buku Agatha Christie ada juga beragam buku berbahasa Inggris lainnya.

Saya selalu senang mengunjungi tempat yang memamerkan buku. Duh!

Kopi Kong Djie

Ruang kedai kopi Kong Djie sebenarnya sederhana saja dan tampak antik. Ini adalah sebuah ruko tua yang jika saya tebak awalnya adalah toko onderdil kendaraan.

Hal ini ditandai dengan plang toko yang dipajang di bagian dalam kedai.

Di langit-langitnya dipajang berutas-utas karet mobil. Lantainya pun tidak tampak mengilap. Penuh bekas oli. Di salah satu sudutnya ada kamar mandi.

Terdapat 3 ruang yang disekat dengan pintu-pintu kayu.

Ruang pertama adalah teras tempat barista dan beberapa meja untuk pelanggan tersedia. Melangkah ke dalam, ruang tertutup ini terasa lebih adem. Ada beberapa kipas angin yang tergantung di bagian atas tembok.

Terakhir, barangkali adalah ruang keluarga. Bagian ini tertutup dan hanya barista yang bisa mengaksesnya.

Saya beruntung bisa mengintip ke dalam. Beberapa yang sempat saya lihat adalah rangkaian foto keluarga berwarna hitam putih.

Foto sebuah sebuah keluarga Tionghoa yang samar-samar.

Kopi Kong Djie

Cara ke Kong Djie Pasar Lama Tangerang

Kami menghabiskan lebih dari sejam di tempat ini. Bercerita tentang bacaan yang sedang kami tekuri masing-masing.

Sebelum matahari tenggelam, kami bergegas pulang ke Jakarta menumpang kereta yang sama dan turun di Stasiun Grogol.

Jika kamu ingin menuju ke kedai kopi Kong Djie, kamu bisa naik dari stasiun mana saja. Yang jelas, mengarahlah ke Stasiun Duri dan menumpanglah kereta jurusan Tangerang kalau kamu datang dari jauh.

Kopi Kong Djie

Kereta akan berhenti di stasiun terakhir, yakni Stasiun Tangerang. Saya membayar 3500 rupiah dari Stasiun Grogol.

Setelah berada di Stasiun Tangerang, berjalanlah keluar dari stasiun dan ambil arah kiri. Di depan akan ada Pasar Anyar. Untuk menuju kedai Kong Djie di Pasar Lama Tangerang, kamu cukup berjalan hingga ke gerbang Pasar Anyar dan mengambil arah kiri hingga bertemu gerbang Kuliner Pasar Lama Tangerang.

Teruslah menyusuri jalan tersebut kira-kira 200 meter dari gerbang, akan ada kedai kopi Kong Djie yang akan menantimu di pojok sebelah kanan.

Tertarik ke sana?

***

Kedai Kopi Kong Djie

Alamat: Jalan Kisamaun Nomor 46, Sukasari, Kota Tangerang, Banten 15118
Jam Buka: 07.00 WIB - 21.00 WIB
Peta:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Tertarik banget! Kebetulan mau ajak keluarga wisata kuliner ke Pasar Lama Tangerang. Boleh juga nih infonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke Pasar Lama Tangerang, jangan lupa mampir ke sini, mbak.

      Delete
  2. antik justru jadi pemikat ya,

    kalau liat2 lepek (piring kecilnya) pun jadul banget masih dari kaleng dengan motif zaman old.

    Tape bakarnya nampaknya lezat, lagi murah cuma 10 k

    ReplyDelete

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊