Perjalanan ke Kerinci di Masa Pandemi

gunung-kerinci

Saya tidak pernah bermimpi main ke Jambi, apalagi Kerinci. Membayangkannya saja sungguh tidak pernah.

Ajakan ini tiba-tiba datang dari Ulil; seorang kawan lama, yang mengabari di Instagram. Bekerja dari rumah dan tidak bepergian selama 2 tahun terakhir selama pandemi membuat saya kaget ketika ditawari ke kaki gunung Kerinci.

Bukannya apa, hingga saat ini, kami serumah belum pernah ada yang terinfeksi virus Covid-19 dan semoga tidak pernah, ya!

Untuk ke mall saja baru 3-4 kali dalam 2 tahun terakhir, itu pun karena ada kebutuhan yang mendesak.

Tempat termewah yang bisa kami jangkau adalah Alfamart dan Indomaret. Tentu saja prokesnya ketat. Sampai rumah, baju di masukkan ke keranjang laundry dan langsung mandi: pakai sabun dan sampo, serta gosok gigi.

Dua hari saya memikirkan tawaran ini. Menanyai orang-orang dan berdiskusi panjang dengan Ade. Lalu mengecek kasus Covid-19 di Jambi.

Baca Juga: Berkunjung ke Pelabuhan Tersibuk se-Asia Tenggara

kopi-arabika-kerinci-jambi

Beberapa hari setelah tawaran ini datang, saya mengadakan meeting online dengan kawan tersebut. Kami juga berdiskusi dengan mereka yang 'memesan' saya.

Kebutuhan mereka adalah belajar menulis dan fotografi untuk keperluan media sosial sebagai media promosi kopi yang mereka punya.

Rencananya bakal digelar setelah PPKM selesai. Nyatanya, hingga tulisan ini dibuat PPKM benar-benar belum selesai. Hanya saja jumlah kasus positif sudah mulai menurun.

Sembari menunggu saya menyiapkan silabus dan menyicil materi presentasi. Belajar menulis dan fotografi adalah hal yang tidak mudah, apalagi untuk pemula. Lalu jadi semakin kompleks ketika keduanya ditautkan di media sosial.

Saya pelan-pelan mulai merunut lagi cara menulis dan memotret yang baik dan benar, lalu menghubungkannya dengan kebutuhan mereka. Proses ini kemudian membawa saya untuk belajar lagi.

Baca Juga: Melancong ke 4 Negara

Berangkat ke Kerinci Melalui Padang

naik-pesawat-di-masa-pandemi

Tepat pukul 6 pagi di Jumat, 8 Oktober saya meninggalkan rumah menuju Bandara Sultan Hasanuddin menuju Padang.

Ini kali pertama saya naik Grabcar lagi setelah setahun lebih. Saya benar-benar deg-degan, bahkan hingga di ruang tunggu bandara.

Pesawat terbang sebelum jam 9. Tiba di Jakarta jam 10. Lalu pindah pesawat dan terbang ke Padang jam 2 siang.

Di bandara Soekarno-Hatta saya wisata kuliner. Makan Yakun Kaya Toast, minum es kopi susu FamilyMart, lalu makan Bakmi GM sesaat sebelum lepas landas.

Di bandara Minangkabau saya ditelepon mas Wanda. Dia yang bakal mengantarkan saya ke Kerinci. Yang bikin saya kaget adalah saat dia menyebutkan bahwa perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 6 jam. Alamak!

Saya benar-benar mengira bahwa Padang ke Kerinci itu hanya sejaman. Saya memang lupa mengeceknya.

Adalah mas Agus yang menyarankan saya untuk mengambil rute Makassar-Padang. Alasannya karena Kerinci lebih dekat dari Padang dibanding Jambi. Kalau Padang ke Kerinci 6 jam, maka Jambi ke Kerinci bisa 12 jam.

Baca Juga: Kesasar di Pasar-Pasar Jakarta

rm-lamun-ombak-padang

"Mau makan dulu atau lanjut aja, mas?"

"Makan dulu, deh," jawab saya ke Wanda.

"Mau makan apa?"

"Nasi Padang, dong!"

Ya 'kan? Mumpung lagi Padang dan ini kunjungan pertama saya seumur hidup.

Kalau kata teman di DM Instagram sih, tempat enak makan nasi padang adalah di Lamun Ombak. Dan jadilah kami makan di Lamun Ombak.

Sesudah makan barulah perjalanan di mulai. Kami mendaki gunung, berpapasan dan beriringan dengan banyak truk.

"Itu Semen Padang ya, mas?" tunjuk saya ke gunung-gunung dengan kelap kelip lampu.

"Iya."

Pemandangan ini hampir sama dengan aktivitas Semen Bosowa dan Tonasa di Pangkep, dan mungkin banyak tempat di Indonesia yang dikeruk gunungnya, lalu dijadikan bahan baku semen.

Percakapan inilah yang menjadi penutup hingga saya benar-benar tertidur dan terbangun tepat pukul 12.32 WIB; saat kami tiba di depan Hotel Bintang Kerinci.

Baca Juga: Hengkang ke Hong Kong

2 Malam di Kaki Gunung Kerinci


"Mas Tri, saya Ardan."

"Oh, iya. Masuk.. Masuk.. Minum kopi 'kan?"

Sejurus kemudian Triyono, Ketua Koperasi Koerintji Barokah, langsung ke belakang mejanya. Menakar berat kopi, mengukur suhu air, lalu menuang air panas ke V60 dengan gerakan melingkar.

Saya duduk. Memandangi sekeliling. Kami mengobrol hal-hal ringan seputar perjalanan saya, apa yang diharapkan dari pelatihan ini, dan apa yang telah mereka kerjakan bersama teman-teman petani kopi.

Tak lama setelahnya, peserta berkumpul, dan saya mulai memaparkan bahan presentasi, menuntun mereka membuat blog, dan mulai membuat tulisan.

Sore harinya, kelas kami didatangi oleh 3 orang laki-laki. Mereka juga minum kopi. Duduk-duduk sambil berdiskusi dan tertawa-tawa.

Yang bikin saya agak roaming adalah mereka berbicara dalam bahasa Jawa. Tapi Mas Tri, sesekali membuatnya dalam bahasa Indonesia, barangkali karena ada saya di ruangan itu.

Oiya, buat kamu yang belum tahu, daerah Kerinci ini dihuni oleh mayoritas transmigran dari Pulau Jawa. Menurut penuturan Mas Tri, dia adalah generasi ketiga. Jadi mbahnya yang pertama kali datang ke tempat ini.

koperasi-koerintji-barokah-bersama

Balik lagi ke 3 orang laki-laki tadi. Tujuan mereka datang sebenarnya adalah untuk mengambil benih pohon. Menyedihkan ketika mendengar diskusi mereka terkait pohon-pohon yang ditebang di Gunung Kerinci demi membuka lahan. Hal ini akan saya tuliskan di lain waktu.

Kelas hari pertama berakhir jelang setengah 6 sore. Saya menumpang motor kembali ke hotel mewah di kaki  Gunung Kerinci. Malamnya, saya dijemput oleh mas Tri untuk makan malam. Katanya, ada tempat makan yang menunya enak-enak, dan ternyata benar.

Malam itu, kami menyantap lobster air tawar, sapo tahu, dan tom yam sambil minum coffee beer.

Keesokan harinya, kelas berlanjut dengan materi dasar fotografi. Kami belajar memotret produk demi kepentingan produk kopi di blog dan media sosial. Saya juga menyelipkan cara membuat foto cerita karena kita tahu mereka adalah petani kopi yang tentu saja punya banyak cerita untuk ditampilkan.

Meski butuh latihan yang intens, setidaknya 15 orang yang ikut selama dua hari ini sudah paham bagaimana blog dan media sosial ini bekerja.

Pulang ke Padang Lalu ke Makassar

kota-padang

Saya meninggalkan Kerinci tepat jam setengah 6 sore menuju Padang.

Apa yang bikin perjalanan di masa pandemi menyebalkan?

Test Swab PCR, saudara-saudara!

Saya tiba di Padang jam 12.30 dini hari. Berbeda dengan Makassar, di Padang tidak ada tempat PCR yang buka 24 jam. Satu-satunya yang tercepat ada di Pramita Lab. Saya ke sana jam 8 pagi dan hasilnya saya terima di WhatsApp jam 9 malam.  Sementara pesawat terakhir ke Makassar adanya jam 4 sore.

Jadilah saya meningap semalam lagi.

warung-kopi-nanyo-padang

Sesudah test Swab PCR di Pramita Lab. Saya mengecek warung kopi Nanyo, katanya warung kopi ini salah satu yang tertua. Saya ke sana jalan kaki, jaraknya kurang lebih 2 kilometer. Saya melewati pasar sentral Padang yang di antaranya berdiri bangunan-bangunan tua.

Kota Padang ini tampak terlihat seperti seorang tua yang renta, tapi punya banyak barang-barang berharga. Karena tidak terawat, barang-barang tersebut juga ikut tampak menua.

Baca Juga: Ada Car Free Day di Kampung Inggris

jembatan-siti-nurbaya

Jelang maghrib, saya bahkan iseng ke Jembatan Siti Nurbaya, konon ini adalah salah satu tempat paling bersejarah dan wajib dikunjungi saat ke Padang.

Sayangnya, saya dibuat kecewa oleh penjual kayu bakar, di kiri kanan jembatan. Mereka melapak di trotoar, saya tidak bisa menjangkau pinggiran jembatan dan melihat sungai Batang Arau yang mengalir di bawahnya dari dekat. Anak-anak muda di sana balapan di jembatan. Lampu remang-remang. Tidak ada apa-apa di sana.

Sesudah sarapan, saya balik ke kamar untuk mandi dan berkemas. Pesawat ke Jakarta jam 8 pagi dan rencananya tiba jam 10. Di bandara Soekarno Hatta, saya menunggu lagi hingga jam 2 siang sebelum bertolak ke Makassar. 

Tips Traveling Selama Pandemi

tips-traveling-selama-pandemi

Perjalanan ke Kerinci di masa pandemi jauh lebih lama, terutama saat balik. Ini tips gratis buat kamu yang ingin bepergian di masa seperti ini:

  1. Cek tempat Swab PCR terdekat di lokasi tujuanmu
  2. Jangan buru-buru beli tiket, pastikan kamu punya gambaran mengenai hasil tes PCR
  3. Siapkan budget lebih karena hasil tesmu bisa saja positif 😂

Begitulah kura-kura. Perjalanan pertama saya ke Kerinci ini ibarat orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi harus pisah karena tidak  sejalan. Tapi masih tetap bisa kontak-kontakan 'kan? 😘

***