Cegah Kusta dengan Pengobatan Tepat

pengobatan-kusta

Di beberapa postingan sebelumnya, saya sebenarnya telah menjelaskan kusta.

Pada dasarnya, kusta adalah jenis penyakit tropis terabaikan yang masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia.

Perlu dipahami bahwa kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Namun, jika orang dengan kusta tidak segera diobati dan luka yang ditimbulkan tidak segera ditangani, maka mereka berisiko mengalami disabilitas.

Akibatnya, kusta bisa berujung kualitas hidup menurun. Terlebih dengan stigma kusta masih ada di masyarakat.

Dalam Talkshow Ruang Publik KBR - Yuk, Cegah Disabilitas karena Kusta! saya ikuti pada YouTube yang berlangsung Senin (20/12) kemarin, saya mendapati beberapa jawaban terkait pengobatan kusta.

Berapa Lama Pengobatan Kusta?

kusta-adalah-jenis-penyakit-kulit

Menurut Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpKK(K), Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia PERDOSKI, pengobatan kusta dibagi ke dalam 2 jenis:

  1. Kusta kering perlu pengobatan intensif 6 bulan
  2. Kusta basah biasanya memakan waktu hingga 12 bulan

Apakah selama 6 atau 12 bulan itu otomatis akan sembuh?

Semuanya tergantung pada kondisi pasien. Untuk 6 bulan bisa 8 bulan dan 12 bulan bisa diperpanjang sampai 18 bulan.

Adanya masalah pada kondisi tubuh lainnya bisa memperlambat pengobatan kusta.

Informasi yang disampaikan oleh dr. Sri ini setali tiga uang dengan apa yang dialami oleh Dulamin, Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura, Cirebon.

Dulamin yang akrab disapa Pak Amin ini mengaku bahwa pengobatan kusta yang dialaminya berlangsung selama 1 tahun atau 12 bulan. Namun, perlu dicatat bahwa risiko setelah pengobatan juga terjadi.

"Kadang-kadang badan panas dingin atau muka memerah," aku Pak Amin.

Risiko pengobatan kusta ini ternyata bisa diperparah oleh munculnya pikiran yang tidak-tidak. 

Baca Juga: Bahu Membahu Atasi Kusta

Stigma Negatif Kusta

kusta-adalah-jenis-penyakit-kulit-yang-disebabkan-kuman

Selama pengobatan Pak Amin menyarankan untuk tidak ambil pusing dan menjalaninya dengan ikhlas, termasuk memikirkan stigma negatif di masyarakat.

Beberapa stigma negatif yang biasanya muncul adalah dengan menyebutkan bahwa kusta adalah jenis penyakit yang membahayakan atau kusta adalah jenis penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan.

Belum lagi anggapan bahwa kusta adalah jenis penyakit kulit yang disebabkan dari faktor genetik atau keturunan.

Padahal seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kusta merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri.

Menurut dr. Sri, kusta sering dianggap penyakit kulit yang berasal dari keturunan adalah karena adanya closed contact atau penularan yang erat antar satu dengan yang lainnya. Penularan erat yang dimaksud ini biasanya terjadi di rumah dalam jangka waktu yang panjang.

Dengan kata lain, adanya salah seorang anggota keluarga di rumah yang mengalami kusta bisa saja berdampak pada anggota keluarga lainnya. Makanya, orang-orang sering beranggapan bahwa kusta adalah jenis penyakit keturunan.

Agar Kusta Tidak Berujung Disabilitas

Dari data yang dipaparkan di Talkshow Ruang Publik KBR ini, dijelaskan bahwa data pada 2017 lalu angka disabilitas penyandang kusta masih tinggi, yakni 6,6 per 1 juta penduduk. 

Padahal, pemerintah telah menetapkan target angka disabilitas kusta kurang dari 1 per 1 juta penduduk. Tingginya angka disabilitas kusta mengindikasikan adanya keterlambatan penangangan dan penemuan kasus kusta.

Baca Juga: Kasus Kusta Meningkat

Mengapa hal ini bisa terjadi? 🤔

Kusta, menurut dr. Sri, merupakan penyakit yang identik dengan kata 'cacat' atau disabilitas atau ketidakmampuan untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari.

Disabilitas yang terjadi pada orang yang mengalami kusta disebabkan oleh kuman kusta itu sendiri yang menyerang saraf. Tidak normalnya sistem saraf bisa punya 2 dampak buruk bagi tubuh, yakni:

  1. Saraf bisa menyebabkan mati rasa dan memicu kerusakan jaringan tubuh yang lain, termasuk tulang.
  2. Saraf bisa berakhir kelumpuhan pada otot atau sistem motorik. Lumpuh ini sendiri bisa jadi lumpuh layu atau lumpuh kaku.

Ketika terjadi mati rasa atau kelumpuhan, kebanyakan orang dengan kusta tidak menyadari bahwa dirinya mengalami kusta. Makanya, mereka tidak mencari pengobatan yang tepat. Akibatnya, kusta yang dialami pun akan membawanya pada disabilitas.

Cegah Disabilitas Karena Kusta

Demi menghindari permasalahan ini, ada baiknya jika setiap orang paham mengenai gejala awal penyakit kusta. Menurut dr. Sri, gejala awal dari penyakit kusta, antara lain:

  • Timbulnya bercak, bisa hanya berupa titik, bisa bercak merah dalam jumlah banyak
  • Munculnya mati rasa pada area tubuh tertentu, misalnya di punggung atau lengan

Nah, timbulnya bercak ini sebenarnya bisa mengindikasikan berbagai permasalahan gangguan kesehatan. Makanya, dibutuhkan deteksi lebih lanjut oleh dokter di fasilitas kesehatan terdekat saat muncul bercak merah dan mati rasa yang mencurigakan.

***