Based in Makassar-Indonesia

Based in Makassar-Indonesia

Sabtu, 15 Agustus 2015

Belajar, Bermain Bersama Benang Baja

“Dang, sini dulu, liat ini!”
“Apa? Mana?”
“Perhatikan hidungnya, berhidung babi, badannya bersayap. Yang ini lagi, tungkai bawah manusia yang tengah berlutut, muncul pucuk daun. Lucu-lucu.”


Yang diperhatikan teman saya adalah 1 dari 114 panel papan kayu berukuran 25cmx17cm milik Adi Gunawan. 114 panel yang diberi judul Dialog Diri ini merupakan  1 dari 9 karya yang dipamerkan. Lelaki yang tengah menempuh pendidikan seni rupa di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menggelar pamerannya mulai tanggal 25 Juli hingga 8 Agustus 2015 lalu di Rumata’ Art Space. Dia terpilih sebagai emerging artist Rumata’ Art Space dalam program Rumata’ Capslock-HIVOS.

Foto : jumardanmuhammad
Dialog Diri merupakan kumpulan gambar-gambar absurd yang dihadirkan dengan cat berwarna hitam. Ia hadir untuk mengolok-olok kita, manusia. Misalnya salah satu gambar karakter yang tengah asyik menggunakan telepon genggam, tepat di atas kepalanya tampak ikon wifi mengarah keluar, di sampingnya ikon wifi mengarah masuk. Keberadaan telepon genggam utamanya smartphone saat ini telah merupakan hal yang sangat substansial. Telepon genggam cerdas yang terhubung dengan internet kini bak oksigen yang kita hirup tiap saat. Arus informasi melalui internet berlangsung dengan cepat. Apa yang terjadi di belahan bumi lain dapat dengan segera kita ketahui, hanya dengan mengurut telepon yang kita genggam, tentu saja dengan terhubung internet.

Parade karya seni rupa tunggal yang digelarnya diberi judul So Sial, tema yang diangkat pun adalah seputar kehidupan sosial. Mengaitkan seni rupa dan sosial hingga membawanya ke ruang pameran adalah hal baru di Makassar. Sebab seni rupa yang tersaji di galeri-galeri kota ini adalah melulu tentang keindahan (pemandangan) dan budaya. Padahal gerakan sosial di berbagai tempat selalu menempatkan seni sebagai salah satu seni sebagai bagian dari sebuah perjuangan. Pun dengan seni, ia lahir dan tumbuh di tengah masyarakat. Di halaman Rumata’, Gunawan memanfaatkan tembok-tembok kosong sebagai media mengkritisi hal-hal berbau sosial dengan gambar. Kehadiran gambar-gambar ditembok awalnya identik dengan sesuatu yang melawan. Beberapa kalangan, menyematkan istilah vandalism terhadap kegiatan ini. Padahal jika ditilik dari sejarah, gambar-gambar di tembok seperti sekarang juga pernah muncul pada zaman perang kemerdekaan. Tulisan-tulisan, yang pada saat itu belum dikenal istilah graffity bertema perjuangan seperti ‘Boeng Ajo Boeng’ dan ‘Merdeka ataoe Mati’ pernah bertebaran di kota-kota dan menjadi pemicu semangat perlawanan.

Mural berjudul Over Population yang menampilkan perempuan-perempuan saling tindih dengan mata tertutup seolah berada dalam ruangan yang sesak mengkritisi jumlah kelebihan penduduk. Ini merupakan ultimatum bagi kita, khususnya di Indonesia. Indonesia merupakan negara keempat di dunia yang memiliki jumlah penduduk terbesar setelah China, India, Amerika Serikat. Berlebihnya jumlah penduduk tidak boleh dianggap sepele sebab akan menimbulkan masalah-masalah baru yang jauh lebih berbahaya dan pemerintah mungkin saja lupa akan masalah ini. Ingatan saya kemudian melayang ke film-film bergenre sci-fi yang melakukan penghancurkan terhadap manusia sebagai solusi dari over population.

Foto : jumardanmuhammad
Menurut catatan para psikolog, digunakannya dinding memang karena lebih mudah menggambar dengan merentangkan tangan di depan ketimbang di bawah. Posisi menggambar di dinding pun memberikan posisi yang nyaman karena memungkinkan mengontrol tangan dan mata yang lebih baik. Anak-anak merasa ikut terlibat  di dalam kisah yang mereka gambarkan melalui bidang yang lebih luas. Teknik mural, doodling dan drawing yang dipamer perupa muda ini nampak tak ada yang ‘serius’. Benang Baja (nama samaran Adi Gunawan di dunia maya) seolah mengajak kita belajar (merenung) dengan cara bermain-main, menggambar di tembok dengan menghadirkan karakter-karakter absurd. Secara tidak sadar kita diseret kembali ke masa kanak-kanak yang pada umumnya suka menggambar dan salah satu bidang yang tak pernah luput dari sasaran crayon atau pensil warna adalah dinding rumah. Yang dikatakan Pablo Picasso bahwa setiap anak adalah seorang seniman tampaknya dipegang teguh oleh Gunawan, masalahnya adalah bagaimana membuatnya tetap sebagai seniman ketika dia tumbuh besar, pun dijaga dengan konsisten berkarya.

Nur Abi Abdiansyah, kurator pameran So Sial di dalam sambutannya menyatakan bahwa Gunawan memiliki kemampuan berjejaring dan mengorganisir diri dalam menyelenggarakan pameran dan mempublikasikan karya. Gunawan pun menyatakan bahwa apa yang tersedia di ruang pamer Rumata’ adalah berkat kerja teman-temannya. Begitulah yang tampak di kalangan seniman, persahabatan merupakan hal penting, sebagai bentuk dukungan intelektual dan emosional.

Hal menarik lainnya adalah saya mengenal Gunawan di kampus sebagai salah satu mahasiswa seni rupa yang produktif berkarya dan rajin mengikuti pameran. Salah satu bukti aktifnya Gunawan berpameran adalah melalui lukisannya berjudul Butuh Bingung yang dipamerkan di So Sial. Dibuat di kanvas berukuran 154cm x 110cm, karya ini telah lolos akurasi dan mengikuti pameran di Galeri Nasional bersama karya-karya mahasiswa seni rupa se-Indonesia tahun 2013. Gunawan, menurut Riri Riza, Direktur Rumata’ Art Space, memilih jalan “keterlibatan” dalam ekspresinya keseniannya. Gunawan adalah salah satu dari sekian bakat muda yang ingin melibatkan diri dalam percakapan kecil maupun perdebatan besar tentang kondisi kota ini. Dia tak seperti mahasiswa seni rupa kebanyakan yang saya lihat, menggelar pameran tunggal hanya sebagai prasyarat kelulusannya dari perguruan tinggi. Lelaki kelahiran 8 Januari 1994 ini tampaknya sadar, dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya, dia ingin melibatkan kehidupan-kehidupan sosial dalam karyanya. Benarlah apa yang disampaikan WS. Rendra dalam puisinya Sajak Sebatang Lisong : Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.

***