ISI BUMI CUKUP UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA, TAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK KESERAKAHAN MANUSIA—GANDHI.

Thursday, 17 August 2017

Ada CFD di Pare!

Foto: Jumardan Muhammad


Sayup-sayup musik berdentum tak jauh dari Stadion Canda Bhirawa. Memasuki perempatan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa dari Jalan Anggrek, saya mendapati tiga orang polisi lalu lintas sedang berdiri di depan plang pemalang jalan. Di sekeliling mereka ada sales girls Oppo yang membagikan brosur ditemani maskot raksasanya yang bergoyang-goyang menyapa orang-orang. Karena penasaran, saya yang mengayuh sepeda mendekati kerumunan ini. Jalanan tidak seperti hari-hari Minggu biasanya. Tak terhitung jumlah orang berpakaian olahraga yang berjalan santai. Selamat datang di Car Free Day (CFD) Pare!

Tuesday, 15 August 2017

Banyak Jalan Menuju Kampung Inggris

Foto: Jumardan Muhammad

“Ada sebuah desa dimana seluruh orang-orang yang ada di dalamnya berbahasa Inggris. Bahkan penjual bakso atau penjaga warung. Jika kamu ingin memesan makanan dan tidak dalam bahasa Inggris, maka kamu tidak akan dilayani. No English, No Service!”

Adagium ini telah mendengung di telinga saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kamu tahu? Hal membanggakan di dunia ini pada masa-masa itu adalah kamu bisa berbahasa Inggris. Pencapaian tertinggi selanjutnya adalah bisa berpidato dalam bahasa Inggris. Mulai dari wali kelas hingga para orang tua menuntut kami untuk bisa berbicara dalam bahasa internasional tersebut.

Thursday, 29 June 2017

Wajah-wajah di Rumah Ibadah



Adalah seorang Wahyu yang saat itu mengajari saya mengirim ucapan ke salah satu radio swasta yang terletak di terminal lama Kota Sengkang. Dia teman SMP saya saat masih duduk di kelas VII dan menyambi sebagai penjual kertas ucapan di radio dekat rumahnya. Kertas ini berukuran mungkin 10x6 sentimeter dan dijual seharga Rp. 1500,- per lembar waktu itu. Tiap orang yang membelinya dapat menuliskan ucapan kepada siapapun dan minta untuk diputarkan lagu apapun. Kertas ini akan dibacakan di sore hari keesokan hari setelah ditulisi—kita dapat menyetornya kembali Wahyu atau mengantarkannya langsung ke studio radio tersebut.

Friday, 14 April 2017

China’s creativity and its identity as a nation

Illustration by: Yi Mi Xiaoxin
"Seek knowledge even if you have to go as far as China” hadits moeslem.
The hadist above has been popular since I was in the third grade of elementary school.  My teacher told me, “There is the greatest country in the world where near from Indonesia and we do not have to go to another continent to learn because we are on the same continent, it is China.” At once, I thought that it was true as I had some Chinese classmates and all of them were in the highest rank during elementary school. Additionally, in my neighborhood, we did believe that the excellent and genuine goods were made in China. Thus, I had been growing up with a curiosity that someday I should learn more from the country.

Wednesday, 12 April 2017

Bulukumba, at second



"..so, did you ever try to dive in the beach?"
"No, I didn't."
"Shit! You should try it. That's your hometown. Someday I'll go there and kick your ass."

Percakapan ini terjadi antara saya dan seorang bule Spanyol sekira lima bulan lalu di Teduh Hostel di daerah Kota Tua Jakarta. Ketika itu dia memperkenalkan diri sebagai seorang diving coach di negaranya. Dan saya memperkenalkan diri berasal dari daerah yang punya banyak pulau dengan pantai cantik. Saya menceritakan Makassar dan beberapa kabupaten di sekitarnya yang punya banyak pantai yang bagus untuk menyelam namun, semua yang saya paparkan adalah hanya ingatan tentang cerita dan foto-foto berlibur orang di media sosial. Saya yang tinggal di daerah yang punya banyak pariwisata laut tapi, jarang ke sana. Tahun lalu saya cuma sekali mengunjungi lautdan itu cuma karena terpaksa.