Based in Makassar-Indonesia

Based in Makassar-Indonesia

Friday, 2 December 2016

Hal-hal ini terjadi di 2016 (1)

Exit signage di Teduh Hostel, Jakarta.
Gubrak! Ini sudah Desember dan siap atau tidak siap menghitung hari lagi kita akan keluar dari 2016 dan masuk ke 2017. Betapa waktu berlalu dengan sangat cepat. Selamat memasuki Desember, bulan terakhir di kalender masehi. Tahun ini adalah tahun tercepat dan tahun paling dinamis bagi saya dalam 5 tahun terakhir. Meskipun tidak banyak hal yang saya lakukan, secara garis besar hanya ada empat fase di tahun ini. Selanjutnya saya akan menuliskannya ke dalam empat bagian hal-hal yang terjadi di 2016. Tak ada maksud untuk narsis dan curhat colongan, ini hanyalah cara untuk memperpanjang ingatan yang kian hari kian memendek dan juga bahan refleksi ke depannya.

1. Awal Tahun (Januari-April)

Masih dengan membawa tugas akhir (TA) yang belum kelar saya memasuki 2016. Menghabiskan waktu dengan merampungkan TA di Daun Coffee, warung kopi paling hits yang letaknya tak jauh dari kampus Parangtambung, berdiskusi dengan dosen dan teman-teman sesama pekerja TA. Hingga disela-sela kerja tersebut, teman sekelas saya yang belum sampai pada tahap penyelesaian kuliah mengalihkan isu TA ini ke ‘bikin karya sama-sama sebagai perpisahan’, maka tercetuslah ‘Almanak’ pameran kalender 2016 hasil karya berupa fotografi dan desain grafis oleh dua belas orang teman sekelas saya. Kelar di Almanak, saya kemudian kembali menghabiskan waktu dengan “Buku Foto Lipa Sa’be”, tugas akhir yang saya angkat, di percetakan sepanjang jalan Sungai Saddang dan distributor kertas di jalan Gunung Bawakaraeng. Di akhir Februari, saya berserta 9 orang pekerja TA mengadakan “Artefak”, pameran tugas akhir sebagai prasyarat untuk ujian akhir. Barulah kemudian di minggu pertama Maret pengerjaan tugas akhir ini benar-benar berakhir. Sebagai tanda telah menyelesaikannya disematilah kami gelar Sarjana Desain! Hasil kuliah selama 4,5 tahun. Betapa Maret tahun ini sangat berharga sebab hari yudisium saya, hari Jumat, bertepatan dengan hari lahir saya.

Saya yang kadung banyak main selama masa kuliah lupa ternyata lupa memikirkan masa depan! Usai yudisium, di dalam kepala saya, tiba-tiba didatangi suara laki-laki, berat, dan ngebas. Dia mengajukan pertanyaan yang berulang-ulang, “Setelah ini apa? Setelah ini apa?”

Display karya di pameran Artefak, Hotel Lamacca Makassar.

Menyusur kembali masa kuliah yang indah : saya menghabiskannya dengan bergaul dengan  banyak orang yang secara tidak langsung bersentuhan bidang yang saya kuliahi, mengikuti dan mengelola kegiatan kreatif serta pameran, belajar merumuskan masalah dan menemukan solusi, dan mengulang mata kuliah yang proses pembelajarannya sangat saya nikmati. Satu-satunya cara untuk kembali mengulang masa ini adalah dengan kembali kuliah! Melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan mendapatkan beasiswa. Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah mendapatkan score TOEFL. Jadilah saya kemudian mengambil kelas persiapan TOEFL di Pusat Bahasa UNHAS, sebulan berjalan hasilnya ternyata nihil. Bahasa Inggris saya ternyata jika diukur pada kisaran 1-5, hanya berada pada angka 0,5. Mondar-mandir di beberapa kursusan di Makassar membuat saya geleng-geleng kepala. Mahal. Dan waktu belajarnya juga tidak intensif. Saya yang saat itu sedang mengendarai motor mendapat telepon berupa tawaran mengerjakan buku tahunan. Dari perhitungan saat itu saya mendapati bahwa uang yang diperoleh dari pengerjaan buku ini bisa saya gunakan untuk berangkat ke Pare kursus bahasa Inggris, yang biayanya jauh lebih murah dibanding kursus di Makassar. Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tuhan memang Maha Baik.

2. Tengah Tahun I (Mei-Juli)

Buku tahunan itu saya kerjakan selama satu setengah bulan, mulai dari pemotretan, grafis, layout buku, cetak-mencetak, hingga finishing. Tak lama setelah client merampungkan urusan keuangan, mereka puas, kami putus dan saya berangkat ke kampung Inggris. Tempat yang sedari saya di sekolah dasar selalu didengung-dengungkan sebagai tempat “No English, No Service” yang katanya bahkan para penjual pentol pun takkan melayani kamu jika tidak menggunakan bahasa Inggris. Percayalah, itu hanya mitos! Saya telah membuktikannya.

Namun, dua minggu sebelum berangkat  saya iseng mengikuti pelatihan tiga hari dua malam di Hotel Arya Duta Makassar! Ada tiga hal menarik bagi saya untuk ikut. Pertama, ini bagai oase di padang pasir bagi saya yang jobless—menginap di hotel berbintang. Iya, saya kampungan. Hah! Kedua, kegiatan ini semata saya ikuti karena ada bidang desain komunikasi visual yang turut diundang di dalamnya. Ketiga, nama pelatihannya membuat saya penasaran—Pelatihan Duta Damai Dunia Maya 2016. Di malam pembukaan saya tertidur saat panitia menjelaskan seperti apa kegiatan akan berlangsung, saya kebingungan ketika telah berkumpul dengan sebelas orang, dua diantaranya merupakan teman kampus. Secara cepat, saya kemudian ditawari menjadi ketua. Tanpa tedeng aling-aling langsung saya terima karena saya bosan melihat orang-orang saling tunjuk untuk menjadi ketua. Namun, beberapa saat kemudian hal mencengangkan terjadi. Istilah ketua ini berganti nama menjadi pimpinan redaksi. Oh, ternyata pelatihan ini mengharuskan kita untuk menjalankan sebuah situs online berkolaborasi dengan anak teknologi informasi, dkv, dan blogger. Hal yang baru saya sadari ketika hari kedua. Di hari yang sama situs http://kareba.dutadamai.id/ pun resmi bergabung di dunia maya, menjelang malam beberapa postingan dicantumkan. Di hari ketiga, saya yang datang terlambat, tau-taunya ditunjuk pertama untuk mempresentasikan website yang telah kami buat. Di Kota Makassar ada lima website yang dibuat sebagai media antipropaganda paham radikalisme dan terorisme di dunia maya, istilah yang saya belum paham—hingga postingan ini dibuat. Sesaat setelah pelatihan resmi ditutup para pimpinan-pimpinan redaksi dikumpulkan untuk kemudian ditugasi melanjutkan keberlangsungan situs online yang telah kami presentasikan. Hal yang diluar dugaan saya. Berawal dari keisengan mengikuti kegiatan ini saya kemudian mendapat tugas untuk menghidupkan Kareba—hingga postingan ini dibuat.

Satu hal yang saya syukuri dari pelatihan ini adalah beberapa mata kuliah di desain komunikasi visual saya berguna!

Mentoring Kareba oleh Revius di Peeple co-Working Space, Makassar.
Dua minggu kemudian saya telah berada di kampung Inggris. Menghabiskan waktu selama bulan Ramadhan di tempat ini membuat saya belajar banyak hal. Itulah mengapa hingga saya menempuh jalan yang lebih panjang dibanding teman-teman saya yang datang bersamaan di Pare. Teman-teman yang dulu kedatangannya bersamaan dengan saya kini sudah tidak lagi di Pare, beberapa telah kerja, sekolah, dan kembali ke daerah asalnya. Saya terlena oleh desa kecil ini. Menonton orang-orang. Di luar kampung Inggris, Pare, banyak yang menyamakan antara Pare dan Kediri. Padahal jarak antara Pare dan Kediri sekira 30 menit berkendara. Kediri adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur, ibukotanya Kota Kediri. Sedangkan Pare adalah salah satu kecamatan dan kampung Inggris berada di desa Tulungrejo. Saya selalu tidak habis pikir ketika tiap bulan selalu saja ada warung kopi masyarakat urban kota (selanjutnya ditulis coffee shop) yang melakukan grand opening di desa ini. Anak-anak muda yang datang dari seluruh penjuru Indonesia pun tidak sedikit yang menghabiskan malam-malam mereka dengan nongkrong di tempat ini. Apakah coffee shop di daerah asal kalian tidak cukup memanjakan? Belum lagi jika malam minggu, beberapa coffee shop malah telah dipesan jauh hari oleh para anak muda yang kursus di desa ini. Untung baik jika mereka berbincang menggunakan bahasa Inggris yang telah mereka pelajari dari Senin hingga Jumat—tapi eh, tidak semua dari mereka mengambil kelas speaking. Yang terjadi malah tongsis dijulur dan mereka berkerumun di bawahnya. Aduh, kok nyinyir?

Lima hari sebelum lebaran Idul Fitri saya masih di kampung Inggris. Apa yang saya dapati kemudian adalah jalanan lengang, hanya satu dua sepeda yang melintas sesekali, rumah-rumah makan tutup, dan tempat-tempat kursusan yang jumlahnya mungkin ratusan pun sepi. Inilah wajah desa Tulungrejo sesungguhnya, yang selama puluhan tahun berkedok kampung Inggris. Apa yang membuat roda ekonomi berputar di tempat ini adalah para anak muda dari Sabang sampai Merauke, dari Pontianak hingga Manggarai. Pada dasarnya masyarakat di desa ini bermata pencaharian sebagai petani. Apa yang mengelilingi kampung Inggris adalah perkebunan sayur mayur dan sawah. Jadi jika di pagi hari, bukan hanya anak kursusan yang melintas bersepeda di jalan-jalan desa ini, tetapi juga para petani.


Selfie di Candi Surowono, Kecamatan Pare, Kediri.

Eh, sudah kepanjangan! Selanjutnya akan saya sambung di postingan berikutnya. Sampai jumpa!