Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 2)

June 30, 2019

jalan-jalan-ke-malaysia

"Butuh 15 tahun untuk mengelilingi dunia. Saya butuh satu setengah tahun lagi," ujar Christianus kepada kami semua.

Di ruang makan dan berkumpul Double K Hostel pagi itu ada 5 lima orang: saya, Ade, seorang perempuan paruh baya turis Jepang, seorang laki-laki gondrong turis Korea, dan Christianus, seorang Belanda yang menikah dengan perempuan asal Bogor.

Kami menghabiskan sarapan sambil ngalor ngidul. Kebanyakan percakapan didominasi oleh Christianus yang berkisah mengenai perjalanannya keliling dunia.

Si turis Jepang baru saja memulai perjalanannya. Malaysia negara pertama yang dia kunjungi, sedangkan si turis Korea sedang dalam perjalanan. Dia akan ke Kalimantan setelah dari Johor Bahru. Sementara Ade dan saya meneruskan rencana untuk ke Singapura.

JB Sentral ke Woodland


Ade dan saya pamit kepada mereka sesaat jarum jam menunjukkan angka 9. Kami akan menyeberang dari JB Sentral ke Woodland dan menghabiskan satu hari di Negeri Singa.

Kamu harus tahu ini!

Kami membeli tiket kereta api di JB Sentral seharga 17 ribu rupiah dan menyeberang ke Singapura. Perjalanan melintas batas negara ini cuma 5 menit, tepat 5 menit. Yang lama justru mengantri di imigrasi Singapura; sejam kurang lebih.


Tujuan pertama kami adalah Bugis Street, tapi sebelumnya kami harus membeli dulu tiket Tourist Pass agar perjalanan naik MRT dan busnya lebih gampang dan murah.

Singapura itu negara yang manuasiawi, menurut saya. Akses ke transportasi umum sangat mudah, kota di tata sedemikian rupa. Negara maju ini meski punya banyak bangunan mewah tapi juga punya banyak taman dan tanah.

Iya, di Jakarta saya kesulitan menemukan taman dan jarang melihat tanah. Seluruhnya ditutupi oleh aspal dan paving block.

Kuliner di Singapura

kuliner-enak-di-singapura

Kami menandaskan Tom Yam dan  Nasi Ayam Mongolia di Bugis Street, berkeliling di kitaran Haji Lane dan Arab Street, lalu singgah di Ramadan Sultan Bazaar di kawasan Masjid Sultan. Kata Ade, "Ini makanan yang paling sesuai di lidah selama jalan."

Oiya, beberapa hari sebelum berangkat kami maraton Street Food di Netflix. Yang menarik perhatian adalah Putu Piring. Jadilah kami melipir ke Haig Road untuk mencari makanan yang kalau di Makassar namanya Putu Cangkir.

kuliner-enak-di-malaysia

Baca juga: Kuliner Bugis Makassar

Rasanya gimana? Tekstur Putu Piring jauh lebih lembut dibanding Putu Cangkir, tapi saya lebih suka Putu Cangkir, barangkali karena saya adalah orang yang kasar? Ga ding, saya cuma suka sesuatu yang bisa dikunyah.

kuliner-enak-di-singapura

Diam-diam Ade menyimpan daftar kuliner lainnya sehingga perburuan kuliner pun berlanjut ke Teh Tarik. Lokasinya agak jauh dari Haigh Road dan sialnya saya lupa nama tempat tersebut. Yang jelas, kami dipermudah dengan bus yang kalau di Jakarta namanya Transjakarta.

Satu hal lagi yang membuat negara ini manusiawi adalah adanya Hawker Centre di setiap apartemen dan kompleks tempat tinggal. Menyenangkan sekali melihat orang-orang berkumpul, makan-makan, dan tertawa lebar-lebar.

kuliner-enak-di-singapura

Di Indonesia, Hawker Centre sering disebut pusat kuliner. Tempat seperti ini memang banyak ditemui di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Australia. Urbanisasi yang bermula di awal tahun 1950-an menjadi pemicu munculnya spot-spot seperti ini.

Dari Johor Bahru ke Malaka

malaysia-singapura-lewat-woodland

Supaya tiket Tourist Pass kami bisa direfund, kami harus kembali ke Woodland Central sebelum loket tiket tutup jam 9 malam.

Tepat pukul 11.30 malam kami tiba lagi di JB Sentral, kereta Singapura-Malaysia ini tepat waktu sekali.

Malam itu menjadi malam kedua kami mengemper karena sudah tidak lagi memesan penginapan. Sayang, tiket bus kami akan berangkat pukul 10 pagi dari Larkin Sentral ke Malaka. Drama mengemper dimulai saat petugas JB Sentral mengusir semua orang yang duduk di kursi ruang tunggu.

Di JB Sentral tidak ada tempat untuk mengemper.

cara-ke-larkin

Lewat tengah malam kami berjalan ke sebuah minimarket tak jauh dari JB Sentral. Tujuannya untuk mencari tempat yang aman untuk tidur. Hasilnya nihil karena kami hanya malah menyantap popmie.

Setelah popmie tandas, kami berpindah ke laundry 24 jam yang berada di lantai bawah Double K Hostel. Sayangnya, di tempat tersebut ada tulisan besar-besar dilarang tidur.

Akhirnya, kami memutuskan menyeberang ke terminal Larkin yang memang posisinya tidak jauh. Lewat pukul 3 pagi barulah kami saya bisa tidur nyenyak.

Ade mengigil karena AC ruang tunggu terminal memang dingin sekali dan dia mengganggu saya: mengeluh kedinginan.

Pukul 10 pagi menjadi waktu yang paling kami tunggu. Perjalanan ke Malaka akan dimulai! Sialnya, tiket yang kami terima salah tanggal. Tiket tersebut harusnya berlaku sehari sebelumnya. Setelah komplain sana sini, jadilah kami harus membeli tiket baru.

Dua Hari di Malaka

destinasi-wisata-di-malaka

Jleb! Orang-orang sedang salat jumat ketika kami tiba di Malaka. Saya lupa hari.

Sesudah menyelesaikan urusan check-in, kami langsung tidur dan bangun sebelum maghrib.

Saya jatuh cinta dengan kota ini sesaat menyaksikan langitnya berubah jadi gelap. Kami melintas di jembatan yang dibangun puluhan tahun silam dengan sungai yang mengalir tenang di bawahnya.

Di sekeliling kami bangunan-bangunan tua berdiri kokoh dengan anggunnya.

destinasi-wisata-di-malaka

Kami menuju Jonker Street atas petunjuk resepsionis. Di sana memanjang pasar malam dengan rupa-rupa makanan. Sayup-sayup lagu Mandarin mengalun berebut ruang dengan sorak sorai penjual, tukang becak, dan perbincangan para turis dengan berbagai bahasa berbeda.

Jonker Street ini ternyata punya dua wajah, siang dan malam hari. Di siang hari bangunan-bangunan tua yang ada membuka diri menjual berbagai macam jualan dan malam hari bangunan tersebut akan tutup dan digantikan dengan lapak-lapak di depannya.

Butuh sekira 3 jam untuk menyusuri jalan ini.

destinasi-wisata-di-malaka

Keesokan harinya kami menjelajah bagian lagi dari Malaka. Bangunan-bangunan peninggalan Portugis, Belanda, dan para 'tamu' dari negara lain yang sempat tinggal di kota yang masuk ke dalam situs warisan dunia UNESCO.

Sejak kecil saya punya satu ingatan paling membekas tentang Malaka yakni nama seorang pelaut Portugis, Alfonso de Albuquerque.  Ingatan ini masuk melalui pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah.

Malaka selama lebih dari 500 tahun menjadi kota pertukaran budaya dan perdagangan antara orang-orang dari Timur dan Barat. Tempat lain yang punya hubungan erat dengan Malaka adalah Banda Naira di Indonesia.

oleh-oleh-kuala-lumpur

Di satu toko di Jonker Street saya menemukan tumpukan biji kopi, kayu manis, dan berbagai rempah lainnya yang dibungkus kecil-kecil sebagai suvenir. Dahulu barang-barang ini menjadi rebutan berbagai bangsa, sekarang dijajakan sebagai buah tangan.

Baca juga: Makan dan Belanja di Thailand

Di kota kecil ini pula akulturasi budaya terjadi: daya tarik yang membuat saya untuk memutuskan menghabiskan dua hari di Malaka.

Kuala Lumpur ke Jakarta

cara-ke-bandara-dari-kl-sentral

Harga tiket menjadi salah satu pertimbangan kami untuk pulang ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Kota pertama yang kami singgahi sebelum benar-benar sampai di Kuala Lumpur adalah Putrajaya.

Kota yang berdiri pada 1995 ini membuat saya terkagum-kagum. Bayangkan, di siang hari sewaktu kami menumpang bus dari terminal Putrajaya ke pusat kota, jalanan benar-benar sepi.

ke-putrajaya

Hanya ada satu dua orang berjalan di daerah yang penuh bangunan besar dengan desain artistik, futuristik, sekaligus menawan. Angin berembus pelan dengan daun-daun kering berguguran di tanah.

Seperti menonton film-film Sci-fi.

Malaysia tidak main-main dalam membangun pusat administrasi negaranya.

Sesudah salat ashar di Masjid Putra kami melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dan tiba di Jalan Alor untuk makan malam.

kuliner-di-jalan-alor

Ini kali pertama saya ke Kuala Lumpur, sedangkan Ade menjadikan perjalanan ini sebagai kali kedua kedatangannya. Sambil menikmati makan malam di tengah kerumunan turis dan di bawah gerimis di pusat street food Malaysia, kami kebingungan mencari penginapan.

penginapan-murah-di-kuala-lumpur

Pagi-pagi sesudah check-out di hotel—yang menjadi penginapan terburuk sepanjang perjalanan kami—hujan turun dengan derasnya. Kami menunggu beberapa jenak sebelum Grab yang akan mengantar kami ke KL Sentral datang.

Pengemudinya seorang pria paruh baya dengan perawakan tambun. Dia berbicara dengan semangat sekali, menjawab, dan menjelaskan secara panjang lebar.

Kami diturunkan tepat di depan pintu masuk KL Sentral dan bergegas mencari loket tiket ke Genting—yang sayangnya harus batal karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk ke lokasi wisata tersebut.

The-Zhongshan-Building


Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Hasilnya, kami keliling-keliling di dalam kota saja, terutama di The Zhongshan Building dan di kawasan Pasar Seni Kuala Lumpur. Baru pada pukul 10 malam kami menumpang bus Aerobus (alternatif termurah dari Kuala Lumpur ke Bandara KLIA 2).

Kami mengemper lagi di bandara KLIA 2 sebelum menuju Jakarta pukul 8 pagi. Kami tiba di Jakarta pukul 11 siang tanggal 4 Juni 2019. Perjalanan ini pun tepat seminggu.

***

You Might Also Like

2 komentar

  1. Wah, saya sudah lama sekali tidak menemukan artikel blog yang bahasanya seperti bahasa majalah cetak. Biasanya semi formal atau tidak formal sama sekali. Saya dulu di Melaka dua hari. Lumayan keliling banyak tempat, termasuk mondar-mandir di pasarnya. Iya, tempatnya memang keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, kak. Saya memang lebih nyaman dengan menulis catatan perjalanan dengan gaya seperti ini. Untuk Malaka memang menjadi tempat menarik dikunjungi.

      Delete

Hi! I'd greatly appreciate it if you kindly give me some thoughts on this post 😊