Pusing-Pusing di Malaysia (Bag. 1)

By Ardan - June 15, 2019


"Ini sudah mau mudik ya?"

Belum sempat saya menjawab, pria berlogat Sunda yang mengantarkan saya dan Ade ke terminal 2 Bandara Soekarno Hatta lalu menimpali pertanyaannya, "Wah, enak sekali! Anak online mah belum bisa mudik secepat ini."

Naik Grab adalah alternatif kedua yang kami pilih setelah mempertimbangkan macet dari Blok M ke bandara. Padahal awalnya kami sudah duduk manis di Damri karena sudah dijanji oleh petugas yang berjaga bahwa busnya akan tepat waktu.

Sayang, busnya baru akan jalan jam 6 sore sementara pesawat kami ke Johro Bahru boarding terakhir jam 7.15 WIB.

"Takutnya tidak kekejar. Macet di pintu tol Semanggi," ujar sopirnya.

Jadilah kami terpaksa menumpang Grab dengan harga yang kelewat mahal karena memang jam pulang kantor.


Drama selanjutnya yang terjadi sebelum kami boarding adalah Tea Tree The Body Shop berukuran 250ml yang sudah jelas-jelas tidak akan dibiarkan masuk kabin. Kami memutar arah ke loket penyimpanan bagasi.

Sialnya, saya lupa kalau tiket pesawat Air Asia yang saya beli dua minggu sebelumnya ternyata tidak dengan bagasi. Cairan pencuci muka tersebut akhir saya pindahkan setengahnya ke botol plastik untuk Ade simpan di dalam tasnya.

Sampai di sini aman. Perjalanan dari Jakarta ke Johor Bahru menghabiskan waktu selama kurang lebih dua jam pun kami tempuh.

Menginap di Musala Bandara Senai


"Ada mak di sana," tunjuk resepsionis yang Ade tanyai sesampainya di Bandara Internasional Senai jelang pukul 12 malam. Kami kelaparan dan semua toko yang ada di dalam bandara sudah tutup.

Aroma rumput basah menyeruak di halaman bandara. Terasa embun turun satu per satu. Ada tiga mobil sedan yang mengantre di depan pintu. Kami menyeberang dan menuju lampu merah kuning berbentuk huruf M yang menyala.

Mak yang dimaksud ternyata McDonalds. Logat Melayu campur Inggris ini kemudian membuat kami pusing selama 6 hari 7 malam di Negeri Jiran.

Baca juga: Hengkang ke Hongkong

Oiya, malam pertama kami tidur di musala bandara. Orang sana menyebutnya surau. Sayangnya, kami tidak tahu jika musala di Malaysia selalu punya ruangan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Pantas saja semua mata tertuju pada kami saat tidur di musala yang baru pada pagi harinya kami tahu kalau itu musala khusus laki-laki.

Jalan Kaki di Johor Bahru


Baru setelah toko-toko sudah buka, tempat makan melayani para pelanggan, dan jarum jam menunjuk pukul 8 pagi kami menuju ke konter bus untuk membeli tiket menuju kota Johor Bahru. Jarak bandara dan pusat kota tepatnya JB Sentral (ini terminal bus dan kereta api) sekisar 40 menit.

Saya sebenarnya tidak punya itinerari selama di Malaysia. Barulah saat tiba di JB Sentral saya dan Ade menentukan tempat-tempat yang akan kami kunjungi selama di kota ini dan ke mana kita setelahnya.

Toh, tiket pulang juga belum dibeli.

Jadilah saya memanfaatkan Google Maps dalam versi offline untuk mengunjungi rekomendasi places to visit in Johor Bahru. Apa saja? Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Salahuddin Bakery


Dari JB Sentral kami jalan kaki ke Salahuddin Bakery: toko roti yang awalnya saya kira merupakan toko roti tertua di Johor Bahru. Jaraknya sekira 1,5 kilometer.

Selama perjalanan kami menyinggahi beberapa konter hape untuk membandingkan harga sim card. Saya menyerah tidak punya paket data internet.

Oiya, ini tips buat kamu yang akan berkunjung ke Malaysia lewat Johor Bahru. Belilah kartu di bandara dengan logo Digi, letaknya di belakang booth informasi beberapa langkah dari konter bus.

Harganya 20RM untuk 9GB. Kalau beli di kota harganya 10RM untuk 1,5GB. Tidak masuk akal kan? Tapi itulah kenyataannya. Awalnya kami pikir 20RM dengan paket 9GB itu mahal dan harga bandara biasanya memang mahal kan?

Kali ini sebaliknya.


Daerah di sekitar Salahuddin Bakery itu membuat ingatan saya melayang ke berbagai film-film holywood dengan setting 80-90an. Bangunan-bangunan pendek dengan jalanan yang sedikit mendaki. Tempat makan yang riuh oleh orang-orang yang mengobrol.

Salahuddin Bakery berada di sebelah kanan pertigaan Jalan Dhoby, Bandar Johor Bahru. Papan namanya sudah usang dan cat yang mulai pudar sehingga hampir saja kami melewatkannya.

Selain roti-roti handmade yang fresh from the oven membentang di hadapan, di kiri kanan dindingnya juga berjejer foto-foto dan berbagai macam publikasi surat kabar tentang toko roti yang dibangun oleh seorang berperawakan India.

Sama dengan namanya, toko roti ini didirikan oleh Salahuddin yang merantau dari New Delhi ke Malaysia pada tahun 1925. Soal rasa, roti-roti Salahuddin bukan kaleng-kaleng. Iyalah, roti kan beda dengan kaleng. Maksud saya, bahan-bahan yang digunakan tidak membuat kita merasa seolah makan tepung.

Arulmigu Raja Mariamman Devasthanam


Dari Salahuddin Bakery kami kembali menyusuri jalanan yang sama; balik badan menuju Arulmigu Rajamariamman Devasthanam.

Agak ribet menyebut namanya, intinya ini adalah kuil Hindu tertua di Johor. Jika tadi orang-orang di sepanjang jalan Dhoby mayoritas dipenuhi oleh orang-orang Tionghoa, maka orang-orang di sekeliliing kuil tersebut kebanyakan orang India.

Matahari tepat di ubun-ubun saat kami tiba. Bau dupa menyeruak di udara. Sebelah kami, tepatnya depan kuil berjejer penjual bunga dan di seberangnya warung makan dan penjual dupa memenuhi jalan.


"Masuk buka kasut!" seorang satpam menegur kami yang terlihat kebingungan mondar mandir di depan kuil.

Kami melepas sepatu. Saya memakai sarung dan Ade bergegas mencuci kaki. Syarat untuk masuk ke Arulmigu Rajamariamman Devasthanam ini memang mewajibkan pengunjung untuk mencuci kaki.

Oh, tips berkunjung di kuil ini yakni pastikan juga kamu tidak bercelana pendek seperti saya. Kalau iya, ada sarung yang disediakan.

Kuil ini bagus sekali. Sekeliling dindingnya dipenuhi oleh gambar dewa-dewa agama Hindu yang berwarna-warni. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun karena sudah ada sejak 1911. Di salah satu sudut, kuil ini punya sederet nama yang telah berpartisipasi untuk menyumbangkan uang demi kelangsungan kuil ini.

Sewaktu kami berkunjung, kuil ini sedang dalam tahap renovasi. Tepat jam 12 siang sebuah terompet ditiup sebagai pertanda bahwa sebuah acara akan dimulai. Jika tidak salah, mereka sedang sembahyang. Ada 7 pria dewasa yang berperan pada acara tersebut.

Masjid India & Tan Hiok Nee


Dari kuil, kami ke masjid dengan menempuh jalan yang searah dengan Salahuddin Bakery. Barangkali begini rasanya jalan tanpa menentukan destinasi terlebih dahulu. Buolak balik!

JB Sentral dan tempat-tempat yang kami kunjungi ini berada di tengah kota Johor Bahru sehingga masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Setelah jalan sekira 500 meter kami tiba di Masjid India.

Omong-omong, masjid ini sebenarnya bukan tujuan kami karena yang kami tuju adalah istana raja. Rasa penasaran dengan tulisan raksasa "Masjid India" membuat kami singgah. Kok ya namanya Masjid India?

Baca juga: 3 Hari 2 Malam di Bali

Banyaknya orang-orang muslim di daerah Johor Bahru membuat masjid ini berdiri pada awal 1950. Lokasinya benar-benar strategis karena berada di kawasan pertokoan, bangunan kerajaan, hotel, bank, hingga kantor pos.

Di sampingnya memanjang Jalan Tan Hiok Nee. Kawasan bersejarah di mana peradaban Johor Bahru dimulai. Jalan ini pun tidak sengaja kami temukan saat mengarah ke istana raja. Jika kamu menyukai bangunan-bangunan tua, maka jangan pernah melewatkan jalan ini saat berkunjung ke Johor. Di malam hari dia berubah wajah menjadi pasar malam.


Oiya, sejarah Johor Bahru ini bermula ketika Sultan Johor waktu itu mengundang orang-orang dari Cina untuk berjualan dan bertani lada hitam dan gambir di daerah ini pada 1870-an. Hal ini juga dipicu oleh banjir dahsyat yang terjadi di Cina waktu itu.

Yang wajib kamu tahu, Johor Bahru dulunya bernama Tanjung Puteri dan berganti nama pada 1855. Kerajaan Melayu ini tidak punya apa-apa selain hanya sebagai kampung nelayan dan berada dalam jajahan Inggris untuk waktu yang lama.

Di mesum warisan Tionghoa Johor Bahru yang kami singgahi di Jalan Tan Hiok Nee menceritakan sejarah ini dengan sangat lengkap. Di satu dinding mereka memajang lini masa perjalanan Johor Bahru sebagai sebuah kota.


Di Jalan Tan Hiok Nee berjejer toko-toko tua yang menjual kain, barang-barang sembako, serta yang paling penting makanan. Iya, di jalan ini ada banyak warung makan yang bisa kamu singgahi. Di jalan ini juga ada sebuah toko roti yang lebih tua dari Salahuddin Bakery.

Baca juga: Kopi Kong Djie

Namanya Hiap Joo Bakery. Saya tidak singah di toko roti ini karena alasan malas mengantri. Saya lebih tertarik untuk mencicipi kopi di warung makan yang ada di depannya.

Double K Hostel


"Ada 4 istana raja di Johor Bahru. Yang itu tutup untuk umum," sopir Grab menjelaskan kemalangan kami yang hanya bisa memandangi istana raja dari pinggir jalan.

Kami menuju Double K Hostel. Panas terik dan jalanan yang sepi membuat kami memutuskan ke penginapan. Double K Hostel ini terletak di daerah Larkin, agak jauh dari JB Sentral. Kalau naik Grab akan menghabiskan 11RM.

Oiya, hostel ini merupakan salah satu penginapan murah di Johor Bahru yang kami pesan beberapa jam sebelum check in. Kalau dirupiahkan, harganya cuma 152 ribu per malam dengan fasilitas Wifi dan sarapan. Untuk kamar mandinya pakai sistem sharing alias kamar mandi luar.


Tapi tenang saja, bersih kok. Yang menarik, kami bertemu dengan 3 orang turis yang berasal dari Belanda, Jepang, dan Korea. Kamu tau apa tujuan mereka? Keliling dunia di usianya yang tidak lagi muda.

(bersambung ke bagian 2)


***

  • Share:

Baca Post Ini Juga

0 komentar

Saya akan senang jika kamu meninggalkan komentar tanpa tautan hidup 😊