10 Gaya Parenting dan Dampaknya pada Perkembangan Anak
Sebagai orang tua, kita semua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak, dan salah satu keputusan terbesar dalam pengasuhan adalah memilih pola asuh atau parenting style yang tepat.
Pola asuh adalah filosofi yang memandu setiap interaksi dan keputusan kita, dan memiliki dampak jangka panjang pada pembentukan karakter, emosi, dan masa depan anak. Jadi, tidak cuma sekadar aturan doang.
Meskipun psikolog Diana Baumrind mengklasifikasikan empat gaya dasar, yaitu Otoritatif, Otoriter, Permisif, dan Mengabaikan; dunia modern telah melahirkan puluhan istilah baru yang lebih spesifik.
Berikut ini gaya parenting yang paling dikenal saat ini dan bagaimana mereka dapat membentuk anak.
1. Gentle Parenting
Gentle Parenting adalah pola asuh yang berakar pada empati, rasa hormat, dan pemahaman terhadap anak. Filosofinya adalah bahwa anak tidak perlu dihukum untuk belajar, melainkan perlu dibimbing dan didorong untuk bekerja sama.
Ciri Gentle Parenting:
Orang tua mau mengakui dan menerima perasaan anak ("Aku tahu kamu marah karena tidak boleh makan permen lagi").
Orang tua fokus pada konsekuensi alami atau logis alih-alih hukuman yang bersifat mempermalukan atau menakutkan.
Meskipun lembut, orang tua tetap menetapkan batasan yang konsisten.
Dampak Gentle Parenting pada Anak
Anak-anak yang dibesarkan dengan Gentle Parenting cenderung punya:
- Kemampuan regulasi emosi yang sangat baik.
- Rasa percaya diri dan harga diri.
- Hubungan batin yang kuat dan penuh rasa hormat dengan orang tua.
- Tingkat kecemasan dan stres yang rendah.
- Disiplin dalam diri yang tumbuh dari kesadaran, bukan rasa takut.
2. Positive Parenting
Gaya ini memandang setiap interaksi sebagai peluang belajar. Positive Parenting sangat fokus pada pembangunan hubungan yang kuat melalui komunikasi, rasa hormat, dan kasih sayang, sambil tetap memberikan arahan dan disiplin.
Ciri Positive Parenting:
Orang tua selalu siap mendengarkan tanpa menghakimi.
Alih-alih mengkritik yang salah, orang tua biasanya akan memuji dan memperkuat perilaku yang positif.
Menggunakan konsekuensi logis untuk mengajarkan tanggung jawab, bukan untuk menghukum.
Dampak Positive Parenting pada Anak
Beberapa dampak Positive Parenting pada anak, yakni:
- Sikap optimis dan growth mindset yang kuat
- Keterampilan sosial dan pemecahan masalah yang baik
- Komunikasi yang terbuka dan jujur dengan orang tua
- Tingkat agresivitas dan perilaku antisosial yang rendah
- Punya mental yang tangguh
3. Attachment Parenting
Dipopulerkan oleh Dr. William Sears & Martha Sears, gaya ini bertujuan menciptakan ikatan emosional dan fisik yang aman (secure attachment) antara kamu dan anak, terutama di masa bayi dan balita.
Ciri Attachment Parenting:
Orang tua biasanya akan segera merespons tangisan atau kebutuhan anak.
Co-Sleeping (Tidur Bersama) dan Babywearing (Menggendong): Kamu menggunakan kedekatan fisik untuk menenangkan dan mengamankan anak.
Menganggap menyusui sebagai alat untuk ikatan emosional.
Dampak Attachment Parenting pada Anak
Anak yang dibesarkan dengan gaya Attachment Parenting biasanya akan punya:
- Rasa aman secara psikologis yang mendalam.
- Kemandirian yang justru tumbuh lebih cepat karena rasa aman.
- Empati dan kepekaan sosial yang tinggi.
- Produksi hormon stres (kortisol) yang lebih rendah.
- Kemampuan menenangkan diri yang baik saat dewasa.
4. Tiger Parenting
Istilah ini dipopulerkan oleh Amy Chua dalam bukunya Battle Hymn of the Tiger Mother, yang menggambarkan gaya parenting yang sangat menuntut dan berfokus pada prestasi akademis serta kesuksesan di bidang seni (musik, olahraga, dll.).
Ciri Tiger Parenting:
Standar Sangat Tinggi: Kamu mengharapkan nilai A dan melarang kegiatan yang dianggap "tidak berguna" (seperti bermain video game).
Kritik dan tekanan adalah alat utama untuk mendorong anak mencapai potensi maksimal.
Orang tua sangat mengontrol pilihan dan kegiatan anak.
Dampak Tiger Parenting pada Anak
Beberapa dampak Tiger Parenting, antara lain:
- Prestasi akademis dan pencapaian teknis yang sangat tinggi.
- Etos kerja dan kedisiplinan yang luar biasa.
- Risiko tinggi mengalami kecemasan, depresi, atau burnout.
- Kreativitas dan kemampuan sosial yang seringkali terbatas.
- Potensi menyimpan dendam atau kerenggangan hubungan dengan orang tua di masa depan.
5. Helicopter Parenting
Helicopter Parenting menggambarkan orang tua yang terlalu terlibat dan mengawasi setiap aspek kehidupan anak. Ibarat kata, kamu melayang di sekitar anak, dari masa kecil hingga dewasa muda.
Ciri Helicopter Parenting:
Orang tua selalu tahu di mana anak berada dan apa yang dilakukannya.
Kamu menelepon guru, pelatih, atau bahkan atasan anak (jika sudah dewasa) untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya bisa mereka tangani sendiri.
Orang tua sangat mendikte pilihan dan jalan hidup anak.
Dampak Helicopter Parenting pada Anak
Jika kamu membesarkan anak dengan gaya Helicopter Parenting, maka bisa jadi ia akan berisiko mengalami:
- Ketergantungan tinggi pada orang lain untuk mengambil keputusan.
- Rasa percaya diri rendah akan kemampuan diri sendiri.
- Kecemasan tinggi saat menghadapi tantangan baru.
- Kurangnya keterampilan dasar hidup (life skills) dan pemecahan masalah.
- Rentan merasa berhak atas sesuatu tanpa usaha.
6. Free-Range Parenting
Gaya ini adalah kebalikan dari Helicopter Parenting. Free-Range Parenting menekankan pada kemandirian, kepercayaan, dan memberi ruang kepada anak untuk bereksplorasi dan belajar dari konsekuensi alami.
Ciri Free-Range Parenting:
Anak diizinkan bermain di luar tanpa pengawasan langsung atau bepergian sendiri ke sekolah/taman bermain, sesuai usia dan lingkungan yang aman.
Orang tua biasanya akan membiarkan anak membuat kesalahan dan belajar darinya.
Kamu percaya anak harus menghadapi risiko yang wajar untuk mengembangkan penilaian.
Dampak Free-Range Parenting pada Anak
Beberapa dampak gaya Free-Range Parenting, yaitu:
Kemandirian dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
Keterampilan manajemen risiko yang sangat baik.
Kreativitas tinggi dalam memecahkan masalah tanpa bantuan.
Kepercayaan diri yang solid dalam navigasi dunia luar.
Fisik yang aktif dan tangguh.
7. Lawnmower Parenting
Istilah ini merupakan variasi ekstrem dari Helicopter Parenting. Jika Helicopter mengawasi, Lawnmower (mesin pemotong rumput) menghilangkan semua hambatan di jalur anak.
Ciri Lawnmower Parenting:
Orang tua secara aktif dan sering kali agresif menghilangkan kesulitan atau persaingan dari kehidupan anak.
Kamu menuntut guru mengubah nilai, mengatur pekerjaan rumah, atau bahkan berargumen dengan orang tua lain di lapangan olahraga demi kenyamanan anak.
Tujuan utama orang tua adalah memastikan anak tidak pernah merasa kecewa, gagal, atau tidak nyaman.
Dampak Lawnmower Parenting pada Anak
Dampaknya sangat negatif; karena anak akan punya:
- Toleransi yang sangat rendah terhadap frustrasi atau kegagalan.
- Merasa tidak berdaya tanpa bantuan orang lain.
- Ketidakmampuan menangani konflik interpersonal.
- Kecemasan ekstrem saat menghadapi hambatan kecil.
- Motivasi berjuang yang rendah.
8. Dolphin Parenting
Dolphin Parenting adalah istilah untuk gaya yang berusaha meniru karakteristik lumba-lumba. Lumba-lumba biasanya punya jiwa sosial, cerdas, bermain-main, dan berenang dalam kelompok. Gaya ini sangat mirip dengan Authoritative Parenting.
Ciri Dolphin Parenting:
Orang tua akan menyeimbangkan aturan (struktur) dengan fleksibilitas dan permainan (kebebasan).
Orang tua mendorong anak untuk mengambil risiko yang diperhitungkan, tetapi tidak menekan mereka secara berlebihan (non-Tiger).
Orang tua akan mendengarkan masukan anak dalam menetapkan batasan.
Dampak Dolphin Parenting pada Anak
Anak yang dibesarkan oleh Dolphin Parents cenderung punya:
Keseimbangan yang sehat antara prestasi dan kebahagiaan (IQ dan EQ).
Motivasi internal yang kuat; bukan karena paksaan.
Keterampilan kolaborasi dan adaptabilitas yang tinggi.
Kreativitas dan pemikiran kritis yang berkembang bebas.
Kesehatan mental yang stabil dan seimbang.
9. Mindful Parenting
Gaya ini melibatkan praktik kesadaran penuh (mindfulness) dalam interaksi sehari-hari dengan anak. Intinya adalah hadir sepenuhnya, secara fisik dan mental, saat bersama anak.
Ciri Mindful Parenting:
Ketika bersama anak, orang tua fokus sepenuhnya pada momen itu dan tidak memainkan hape atau gadget.
Orang tua tidak bereaksi secara otomatis terhadap provokasi. Sebaliknya, mereka mengambil jeda sejenak untuk memilih respons yang paling efektif dan penuh kasih.
Orang sadar akan emosi dan stresmu sendiri, dan berusaha mengelolanya agar tidak "meluapkannya" kepada anak.
Dampak Mindful Parenting pada Anak
Anak yang dibesarkan dengan gaya Mindful Parenting biasanya akan punya:
- Kesadaran diri dan kecerdasan emosional yang tinggi.
- Kemampuan manajemen stres yang efektif.
- Perilaku impulsif dan reaktif yang minim.
- Perasaan didengar, divalidasi, dan diterima apa adanya.
- Fokus dan konsentrasi yang lebih baik.
10. Conscious Parenting
Dipopulerkan oleh Dr. Shefali Tsabary, Conscious Parenting adalah gaya yang sangat introspektif dan berfokus pada pertumbuhan diri orang tua sebagai kunci untuk mengasuh anak.
Ciri Conscious Parenting:
Orang tua melihat anak bukan sebagai seseorang yang perlu kamu "perbaiki," tetapi sebagai cermin yang menunjukkan area trauma atau kekurangan dalam dirimu yang perlu kamu sembuhkan.
Orang tua berusaha melepaskan harapanmu sendiri tentang siapa anakmu seharusnya dan menerima mereka seutuhnya.
Prioritas orang tua adalah hubungan yang otentik dan saling menghormati, tidak sekadar menyuruh anak untuk patuh.
Dampak Conscious Parenting pada Anak
Jika Conscious Parenting ini diterapkan, maka besar kemungkinan akan:
- Terputusnya rantai trauma pengasuhan antargenerasi.
- Kebebasan menjadi diri sendiri tanpa tekanan dari orang tua.
- Kematangan emosional dan spiritual sejak dini.
- Hubungan yang setara dan saling menghormati dengan orang tua.
- Minimnya beban psikologis untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Intinya ya..
Memahami gaya parenting ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun pendekatan yang cocok untuk semua orang.
Kunci keberhasilan pola asuh terletak pada fleksibilitas dan refleksi diri.
Mungkin kamu menerapkan unsur Positive Parenting saat mengajarkan kebiasaan baik, tetapi juga menggunakan praktik Attachment Parenting saat anak masih bayi.
Atau mungkin kamu menyukai ide Gentle Parenting, tetapi terkadang merasa sulit untuk tidak menjadi Helicopter Parent ketika anak menghadapi tantangan.
Yang paling penting adalah kamu terus belajar, beradaptasi, dan secara konsisten menunjukkan cinta, rasa hormat, dan dukungan kepada anak.
Pada akhirnya, pola asuh yang paling efektif adalah pola asuh yang disesuaikan dengan kebutuhan unik anak kamu, sambil tetap menjaga batasan dan hubungan yang sehat.
Referensi:
- Power TG. Parenting dimensions and styles: a brief history and recommendations for future research. Child Obes. 2013 Aug;9 Suppl(Suppl 1):S14-21. doi: 10.1089/chi.2013.0034. PMID: 23944920; PMCID: PMC3746212.
- Kim SY. Defining Tiger Parenting in Chinese Americans. Hum Dev. 2013 Sep;56(4):217-222. doi: 10.1159/000353711. PMID: 27182075; PMCID: PMC4865261.
- Attachment parenting. (n.d.). Ask Dr Sears. Diakses 27 November 2025 dari https://www.askdrsears.com/topics/parenting/attachment-parenting/


Post a Comment