Pengalaman Vaksin Sinovac di Puskesmas Bangkala, Makassar

efek-vaksin-sinovac

Sebelum bahas lebih lanjut pengalaman vaksin Sinovac dan apa saja efek vaksin Sinovac. Maka, kamu perlu baca awal mula kenapa saya bisa dapat vaksin Covid yang ini.

Jadi, salah satu rutinitas yang tidak akan saya lewatkan sebelum mandi pagi adalah bertelanjang dada, rebahan, dan scrolling Instagram atau Twitter.

Nah, kemarin (17/6) di tengah-tengah nikmatnya main Instagram saya berhenti di sebuah skrinsyut tentang pervaksinan di Makassar.


Setelah memelototi skrinsyut ini saya pun bangkit, menyambar handuk, dan masuk ke kamar mandi. Meski badan diguyur air dingin, kepala saya masih berkutat dengan dengan skrinsyut tadi. Vaksin ga ya? 🤔

Mengingat-ingat kembali cerita orang mengenai pro kontra vaksin ditambah lagi dengan berita-berita tidak jelas yang menyebar di grup wassap, saya pun kalut.

Sesudah mandi saya menemui Ade.

"Coba lihat ini," saya menyodorkan hape dengan skrinsyut informasi vaksin.

"Ya, ambil saja," tanggapnya.

Saya mengambil kembali hape dan melototinya sekali lagi. Tanpa lama-lama saya pun berganti baju, mengambil jaket, dan membuat fotokopi ktp di printer rumah. Tak butuh waktu lama, saya pun bersiap ke Puskesmas Bangkala (puskesmas terdekat dari rumah) untuk vaksin.

"Kempes ga?" tanya saya ke Ade saat mengeluarkan motor.

"Iya."

"Ya udah, jalan dulu, ya!"

Motor digas, jalan yang saya lalui ke Puskesmas harus sedikit mutar karena ban depan motor kempes dan butuh dipompa dulu. Sepertinya ban depan ini memang ada pakunya, soalnya sudah dua kali saya mengalami hal serupa. Nah, karena sedang buru-buru, saya pun tidak sempat untuk menambal bannya. Cukup dipompa saja.

Cara Vaksin Sinovac

vaksin-sinovac-dari

Sesampainya di Puskesmas Bangkala yang berjarak kurang dari 2 kilometer dari rumah atau ya kira-kira, 5 menitlah; saya pun memarkir motor dan menghampiri seseorang di ruangan yang tepat berada di hadapan saya.

"Pak, mau daftar vaksin di mana ya?"

"Coba ke ruang tengah," balasnya.

Di ruang tengah saya menanyai seorang perempuan di loket pendaftaran dan dia mengarahkan saya ke lantai dua.

Saya mengetuk ruangan kecil dengan tulisan Ruang Vaksinasi di pintunya.

"Bu, mau daftar vaksin di mana ya?"

"Oh, silakan duduk. Minta tolong isi ini dulu."

Saya menuju ke meja yang terdapat tulisan 'Screening'. Langkah-langkah daftar vaksin Sinovac yang saya jalani kira-kira begini:

  1. Isi Kartu Vaksinasi Covid-19 dan selembar formulir berisi pertanyaan mengenai kondisi kesehatan.
  2. Tidak semua formulir tersebut perlu kamu isi karena ada dokter yang bakal menanyai kondisi kesehatanmu. Cukup isi bagian data diri.
  3. Cek tekanan darah yang akan dibantu oleh tenaga medis

Nah, pas cek tekanan darah saya mengalami hal aneh yang kemudian bikin saya was-was. Tekanan darah diastolik saya rendah. Itu loh, yang per per itu.

Dua kali dicek selalu berada di kisaran 100. Yang memeriksa menyarankan saya untuk minum air putih terlebih dahulu. Saya pun keluar ruangan dan mencari air minum. 

Sesudah minum dan duduk-duduk, saya dipanggil kembali dan dicek lagi tekanan darahnya. Hasilnya, normal.

Tenaga medis pun mengarahkan saya ke meja vaksin. Di atas meja terdapat kotak biru besar yang isinya adalah vaksin.

"Ini Astra atau Sinovac, bu?"

"Sinovac," jawabnya singkat.

Untuk di Makassar, hingga saat ini vaksin AstraZeneca belum tersedia, kemungkinan besar bulan depan, artinya bulan Juli 2021 menurut dokter yang ada di tempat itu. Dia mengantuk berat karena efek vaksin kedua yang barusan diperolehnya.

Hanya dalam hitungan detik saya pun tervaksinasi Covid-19 dengan merek Sinovac. Saya kemudian menerka-nerka efek vaksin Sinovac yang mungkin bakal saya rasakan.

Oiya, yang disuntik adalah lengan kanan saya. Soalnya, saya kidal. Ga tahu apa hubungannya karena saya tidak menanyakan hal ini.

Setelah 15 menit observasi saya diperbolehkan pulang. Informasi terakhir yang disampaikan ke saya adalah penjelasan mengenai vaksin kedua dan kalau ada apa-apa setelah vaksin saya disarankan untuk langsung ke UGD rumah sakit terdekat.

Seluruh prosesnya berjalan lancar dan gratis. Tidak ada improvisasi dan drama-drama 😎

Efek Vaksin Sinovac

vaksin-sinovac-adalah

"Kalau demam gimana, dok?"

"Minum Paracetamol saja dan istirahat yang cukup," jelas si dokter.

Sesampainya di rumah, saya mandi, makan, dan tidur siang. Bangun-bangun persendian saya pegal. Barangkali ini efek vaksin Sinovac.

Saya memang sudah bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakal muncul. Saya pun sudah menyiapkan Paracetamol kalau-kalau demam.

Beruntungnya, hingga tulisan ini dibuat, 24 jam setelah vaksin, saya tidak merasakan apa-apa, kecuali pegal. Tidur saya nyenyak dan berasa segar saat bangun.

Rencana vaksin kedua saya yang bertujuan untuk memperoleh kekebalan maksimal adalah tanggal 15 Juli 2021 di Puskesmas Bangkala, Antang, Kota Makassar. Oiya, untuk proses vaksinasi di Puskesmas Bangkala hanya sekali seminggu di hari Kamis saja jam 8-12 siang. Jadi, pastikan kamu datang di hari itu.

Baca Juga: Masa Depan Kita Berawal Dari Urusan Belakang

Menariknya setelah vaksin, baik orang tua maupun mertua, memandang sinis saya yang sudah vaksin. Setiap kali saya mengalami sesuatu yang aneh, mereka tiba-tiba berujar, "Pasti efek vaksin!"

Padahal tidak ada hubungannya sama sekali 😅

Saya sempat mual di kamar mandi saat wudhu salat maghrib, tapi hal itu sebenarnya biasa saja. Saya cuma menghindari menelan air wudhu, bukan sama sekali efek vaksin Sinovac yang saya dapatkan.

Saran saya buat kamu yang membaca ini, "Vaksinlah!"

Baca Juga: Setelah 8 Bulan Bekerja Dari Rumah

Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan pandemi sialan ini berakhir. Saya sudah bekerja dari rumah sejak 23 Maret 2020 hingga hari ini 18 Juli 2021.

Saya sudah capek pakai masker, apalagi kalau keluar rumah bersepeda. Saya juga sudah ingin sekali main ke mall, menonton di bioskop, dan nongkrong seharian di Coffee Shop.

Baca Juga: Selain ke Starbucks, Ke Mana Lagi Kita Bekerja?

Jadi, yuk, vaksin saja dan percayalah pada sains!

***