Penyebab dan Faktor Risiko Kelahiran Prematur

prematur-adalah

"Saya lahir ga sampe 9 bulan. Cuma 7 bulan."

"Ha? Serius?"

"Iya, saya di inkubator lama."

Percakapan ini terjadi kira-kira pada  2005 saat saya masih SMP. Kawan tersebut adalah salah seorang sahabat saya yang belakangan saya ketahui kalau kelahirannya disebut sebagai lahir prematur.

Hal ini kemudian semakin jelas saat saya mengikuti #BicaraGizi dengan tema Tantangan Penanganan Kesehatan Bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia.

Bicara Gizi ini dilaksanakan dalam rangka World Prematurity Day 2021: Zero Separation – Act Now!

Nah, sebelum kita lanjut membahas mengenai berbagai penyebab kelahiran prematur. Mari kita cari tau dulu apa sebenarnya kelahiran prematur itu!

Apa Itu Kelahiran Prematur?

lahir-prematur-adalah

Menurut Dr. dr. Rima Irwinda, SPOG (K), dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal, kelahiran prematur adalah kelahiran di usia kehamilan kurang dari 37 minggu.

Ketika lebih dari 37 minggu, maka sebuah kelahiran dikatakan kelahiran cukup minggu.

Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 1 dari 10 bayi di seluruh dunia lahir prematur pada tahun 2010 yang menyebabkan estimasi kelahiran prematur sebanyak 15 juta dan dari 1 juta meninggal karena prematuritas.

Jika melihat data WHO 2012, maka ketahuan kalau Indonesia rangking kelima penyumbang kasus kelahiran prematur 60% di seluruh dunia.

Dengan kata lain, Indonesia masuk ke dalam 10 negara dengan jumlah kelahiran prematur tertinggi di dunia, setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan.

Baca Juga: Penyebab Kanker Hati dan Gejalanya

Apa Risiko Penyebab Kelahiran Prematur?

Terjadinya kelahiran prematur bisa jadi disebabkan oleh adanya faktor risiko, seperti:

  • Kelahiran kembar
  • Penyakit ibu, seperti diabetes, hipertensi, anemia, asma
  • Infeksi penyakit pada ibu, saluran kemih, genital
  • Penyalahgunaan obat-obatan
  • Konsumsi alkohol dan merokok
  • Usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
  • Jarak kehamilan terlalu singkat <18 bulan
  • Cairan ketuban berlebih
  • Masalah selama kehamilan, seperti preeklamsia, perdarahan, infeksi

Beberapa faktor risiko kelahiran permatur lainnya, yaitu stres, anemia, serta status ekonomi rendah.

Baca Juga: Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Apa Dampak Kelahiran Prematur?

Untuk jangka pendek, seorang anak bisa mengalami:

  • Masalah pernapasan (sindrom distress pernapasan, apnea of prematurity, displasia bronkopulmoner)
  • Masalah minum (necrotizing enterocolitis)
  • Perdarahan intraventrikular
  • Aliran darah jantung abnormal
  • Infeksi atau sepsis

Untuk jangka panjangnya, si Kecil bisa saja mengalami:

  • Celebral palsy
  • Developmental delay
  • Masalah penglihatan
  • Masalah pendengaran
  • Gangguan belajar

Baca Juga: Metode Lahiran Caesar dan Tes Potensi Caesar

Selain itu, perlu kamu pahami juga bahwa saat anak atau remaja yang dilahiran <28 minggu dan 28-31 minggu, maka ia punya risiko 17X dan 3,5x lebih besar menderita gagal jantung dibandingkan anak atau remaja yang dilahirkan cukup bulan.

Tidak hanya itu, pada anak yang dilahirkan di masa yang akan datang, maka mereka juga berisiko mengalami diabetes melitus tipe 1 dan 2.

Beberapa hal yang dikhawatirkan dari anak yang lahir prematur adalah gagal tumbuh dan stunting. Ketika salah satunya terjadi, maka pertumbuhan anak jadi terhambat dan bisa jadi anak tidak dapat mencapai kejar tumbuh.

Risiko yang mungkin saja dialami oleh anak yang lahir prematur saat ia mulai tumbuh antara lain tantrum, sulit makan, gangguan tingkah laku, gangguan konsentrasi, hingga gangguan belajar.

Ternyata, selain anak, kelahiran prematur juga punya dampak bagi ibu. Beberapa di antaranya, yakni:

  • Anxietas
  • Depresi pasca bersalin
  • Post-traumatic stress
  • Masalah bonding dengan anaknya

Apa Solusi Kelahiran Prematur?

Menurut Dr. dr. Putri Maharani TM, Sp.A(K), dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatalogi, demi menyiapkan generasi berkualitas dibutuhkan usaha dan perjalanan panjang.

Mulai dari persiapan kehamilan, hamil, proses persalinan, perawatan di rumah sakit, perawatan di rumah yang termasuk ke dalam pemantauan jangka panjang.

Saat proses kelahiran, orang tua perlu:

  • Pilih pusat kesehatan yang sesuai dengan kondisi janin yang akan dilahirkan
  • Rumah sakit yang dipilih harus mampu memberikan pelayanan optimal
  • Penanganan di awal kelahiran sangat menentukan masa depan anak
  • Gangguan pernafasan yang sering dialami oleh anak prematur di awal kehidupan harus ditangani dengan baik

Saat di rumah sakit, biasanya anak akan mendapatkan perawatan: 

  • Ditempatkan di NICU Gentle Care
  • Covering di inkubator
  • Diletakkan di nesting
  • Mendapatkan ASI atau ASI perah ditambah fortifikasi sesuai indikasi
  • Menjalani Kangaroo Mother Care demi membantu proses bonding

Lalu, setiap orang tua juga perlu rutin kontrol untuk pemantauan tumbuh kembang. Tanyakan pada dokter apakah si Kecil sudah tumbuh sesuai kurva pertumbuhan dan apakah perkembangan sudah dicapai sesuai usianya.

Meski tidak mudah, seluruh pemantauan secara berkala penting dilakukan demi membuat si Kecil tumbuh kembang secara optimal. Oiya, setiap orang tua juga perlu punya Buku KIA, ya!

Bicara mengenai pemberian nutrisi pada anak, dr. Putri menyarakankan beberapa hal, yaitu:

  • Hitung kebutuhan kalori dan volumenya. Pastikan tidak berlebih dan tidak kurang. Selalu konsultasi dengan dokter anak untuk kebutuhan nutrisi yang tepat dan sesuai.
  • Pantau berat badan, panjang badan, dan lingkar kepalanya. Pastikan pertumbuhannya tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat.

Baca Juga: Pedoman Gizi Seimbang Anak

Seluruh penanganan anak yang lahir prematur ini bertujuan tidak hanya untuk membuat seorang anak hidup, tapi juga punya kualitas yang baik dalam masa tumbuh kembangnya hingga ia dewasa kelak.

Sebagai kesimpulan, angka kelahiran prematur di Indonesia masih tinggi dan terus meningkat. Kelahiran prematur menyebabkan komplikasi pada ibu dan anak yang dilahirkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Penanganan yang baik harus dikerjakan sejak awal kelahiran dan perlu dilakukan pemantauan dan skrining demi mencapai tumbuh kembang optimal

***